Feeds:
Posts
Comments

Wanita. Perempuan. Makhluk indah ciptaan Tuhan. Bagaimana dunia tanpa mereka? Muram, tentu saja. Wanita ibarat cahaya, memberikan terang, kehangatan, dan cinta kepada kehidupan.

Di negeriku ini banyak wanita hebat, Kartini contohnya. Banyak wanita cantik, Dian Sastro misalnya. Mereka memang indah dan hebat.

Mengapa tiba-tiba aku bicara tentang wanita? Bukan karena sedang jatuh cinta. Aku merasa perlu mengingatkan wanita Indonesia, laki-laki juga seharusnya, untuk tidak lupa mengucap syukur atas hidup dan kehidupan yang dijalani di negeri ini.

Ini semua karena aku baru selesai membaca 2 novel. Yang satu true story, yang satu lagi fiksi historis—keduanya genre favoritku. Yang pertama judulnya Kabul Beauty School. Dari judulnya kalian pasti tahu setting novel ini adalah Afghanistan. Ditulis oleh Deborah Rodriguez berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri. Katanya novel ini akan segera difilmkan oleh Columbia Pictures. Deborah, seorang wanita Amerika, ahli kecantikan, rela meninggalkan negaranya untuk membantu wanita-wanita di Afghanistan melalui keahliannya, ilmu kecantikan. Bagaimana bisa?? Temukan jawabannya. Novel tentang cinta, persahabatan, empati yang tulus, pengorbanan, yang akhirnya mampu mengubah keadaan di tengah-tengah konteks kehidupan yang sama sekali tidak memberikan peluang bagi wanita untuk bebas berkarya. Cerita indah ini mengalir di bawah ancaman maut, desingan peluru, ledakan bom, kekerasan, dan air mata. Namun, sekolah kecantikan itu seperti oasis di gurun, telah memberikan setitik suka cita yang mahal harganya bagi wanita-wanita di negeri yang selalu dibanjiri air mata.

Novel yang kedua berjudul Scar of David, Scar of Palestine. Tentu saja berlatarbelakang Palestina. Kisah sedih menusuk tulang. Kisah tentang bangsa yang terusir dari tanah leluhurnya karena dirampas hak miliknya. Kisah tentang tercerabutnya silsilah keluarga yang berumur ribuan tahun akibat pemusnahan yang dilakukan oleh satu bangsa kepada bangsa lain. Kalian tentu tahu bangsa penjarah itu.
Kisah tentang cinta yang melimpah bagi orang-orang yang terkasih, yang harus mati terbunuh di atas tanah dan rumahnya sendiri. Penulisnya, Susan Abulhawa, yang juga salah satu pengungsi, korban penjarahan negeri dan tanah tersebut, menuturkan cerita ini dengan indah. Kalian tidak akan sabar untuk membalikkan halaman demi halamannya. Anda juga mungkin akan menangis dibuatnya.

Aku sengaja tidak menceritakan lebih jauh. Aku ingin kalian membaca buku-buku itu. Terlebih teman-temanku yang wanita.

Dari kedua novel ini aku belajar bahwa hidupku sekarang adalah anugerah yang luar biasa. Bahwa betapa saudara-saudara perempuanku sangat beruntung lahir dan hidup di Indonesia, bebas berekspresi, bebas berkarya.

Miliki cinta yang melimpah, meski perih, pedih, cinta akan membuatmu bertahan…

jackoKing of Pop telah tiada…Michael Jackson meninggal dalam usia yang relatif muda, 50 tahun. Penyebab kematiannya masih simpang siur. Menurut informasi medis, dia terkena serangan jantung. Kemudian ada yang mengatakan overdosis obat penenang. Yang menarik adalah ketika ada yang mengatakan bahwa penyebab kematiannya adalah karena kesepian!!! Seorang superstar dunia hidup dalam kesepian??? Apa mungkin? Bisa saja.

Kalau kita ikuti sedikit sejarah tentang Jacko, maka kita akan mengerti bahwa dia memang kesepian. Di usia yang masih sangat belia dia sudah menjadi bintang yang harus bekerja siang malam menghibur orang. Dia kehilangan masa kecil yang sangat berharga. Dia tidak sempat bermain-main sepeda layaknya anak kecil yang lain. Dia tidak punya waktu untuk main papan luncur, basket, dan lain sebagainya, seperti anak-anak seusianya. Demikian juga dengan masa remajanya, direnggut oleh popularitas sebagai pesohor. Bahkan anak-anaknya dipakaikan topeng setiap hendak keluar rumah, dengan alasan takut dilukai atau diculik orang. Suatu ketakutan yang hadir dari pengalaman masa kecilnya. Mahal sekali harga popularitas itu…

Untuk membalas (atau menebus) masa kecil yang hilang, maka dia membangun istana Neverland yang sangat mewah. Neverland diambil dari setting cerita Peter Pan, tokoh rekaan yang dikisahkan tidak dapat tumbuh dewasa, dia ingin menjadi anak kecil selamanya. Mungkin Jacko ingin seperti Peter Pan, tetap menjadi anak kecil selamanya. Mungkin dalam tubuh dewasa Jacko terperangkap jiwa anak kecilnya.

Sebagai super star, Jacko memang kaya raya. Namun, kekayaan itu tidak mampu membawa masa kecilnya kembali. Waktu yang telah berlalu tidak akan bisa diputar kembali. Di istana Neverland ini Jacko membangun banyak sekali tempat bermain bagi anak-anak, wahana-wahana seperti yang ada di taman hiburan. Semua lengkap. Dia mengundang banyak anak kecil untuk bermain di Neverland. Mungkin dia berusaha menghadirkan masa kecilnya yang hilang. Gara-gara keakrabannya dengan anak-anak ini juga dia beberapa kali terkena tuduhan pelecehan seksual. Sejak saat itu Jacko seperti remuk, mulai tenggelam, dan menarik diri dari dunia hiburan. Hidupnya sepi, bahkan sampai pada kematiannya dia pergi dalam kesepian, tanpa ditemani orang-orang terdekatnya.

Bergelimang harta dan menjadi salah satu orang paling terkenal di muka bumi sama sekali tidak menjamin Anda bahagia. Pengalaman hidup orang lain harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Adalah lebih menyenangkan berada di sisi orang-orang dan sahabat yang kita cintai meski dalam kesederhanaan, dari pada kaya raya namun tercerabut dari kekasih hati kita. Hal ini sudah mulai dirasakan Thaksin Sinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand. Dia diburon oleh aparat negaranya karena dugaan korupsi. Dia lari ke negeri orang. Dia kaya raya, termasuk orang terkaya di Asia. Namun, beberapa hari yang lalu dia mengatakan bahwa dia mulai kesepian di negeri orang, dia ingin kembali ke negaranya.

Hangatnya pelukan keluarga, lembutnya dekapan sahabat, dan penerimaan yang apa adanya dari orang-orang di sekitar kita adalah harta yang jauh lebih bernilai dari pada materi dan popularitas. Lalu, apakah artinya kita tidak boleh kaya dan populer?? Tentu saja boleh. Tapi hati-hati dalam memaknai kekayaan dan popularitas. Harta dan popularitas itu media, bukan tujuan.

Tujuan kehidupan adalah berarti bagi kehidupan. Harta dan popularitas akan tinggal. Sekarang kita memang heboh membicarakan Michael Jackson. Para pesohor dunia berduka dan mengadakan acara-acara untuk mengenangnya. Tetapi cepat atau lambat dia akan dilupakan orang. Yang tertinggal hanya karyanya, musiknya. Demikian juga kita. Yang akan kita tinggalkan adalah karya dalam kehidupan. Tidak mesti jadi orang populer untuk berkarya. Banyak orang yang berkarya dalam kesunyian, jauh dari hingar bingar media. Tetapi semesta dan kehidupan di dalamnya tahu apa yang dilakukannya dalam kesunyian itu.

Hidup terlalu singkat untuk disia-siakan. Hidup terlalu singkat untuk membenci saudara dan teman. Hidup terlalu singkat untuk mendengki sesama. Mari saling memaafkan jika terjadi kesalahan. Mari kembali bersahabat dengan sahabat yang selama ini hilang. Mari kembali bersaudara dengan saudara yang selama ini terpisah karena benci. Kita tidak dapat hidup sendiri, kehidupan ini akan membunuh kita. Jangan biarkan diri Anda, saudara kita, teman kita, atau orang-orang di sekitar kita hidup dalam kesepian, jadilah sahabat bagi mereka dan jadikan mereka sahabat bagi Anda. Sungguh alangkah baik jika kita semua hidup dalam persahabatan…..

Lingkungan hidup (ekologi) sepertinya tidak menjadi topik yang seksi bagi para capres dan cawapres Indonesia. Hampir tidak pernah kita mendengar ada capres atau cawapres yang menyinggung tentang ekologi. Isu utama yang mereka usung adalah ekonomi. Pertumbuhan ekonomi selalu menjadi perhatian utama dan sepertinya menjadi ukuran sukses dari satu pemerintahan. Demi pertumbuhan ekonomi, ekologi sering jadi korban. Lingkungan hidup dieksploitasi untuk kemajuan ekonomi. Ekonomi itu untuk siapa? Untuk manusia tentu saja. Singkatnya, lingkungan hidup harus siap dikorbankan untuk kepentingan manusia. Semuanya berpusat pada manusia. Kita hanya memikirkan apa yang baik bagi kelangsungan hidup spesies kita, seolah-olah manusia dapat bertahan hidup tanpa spesies yang lain. Sobat, kita tidak akan bertahan tanpa ciptaan yang lain!

Teknologi sebagai Mesias?

Manusia semakin mengembangkan ilmu teknologi sebagai instrumen untuk berhubungan dengan alam. Akibatnya, terbentuklah jarak antara manusia dengan alam. Manusia superior, alam inferior. Manusia yang tadinya diciptakan merupakan bagian dari alam, kini merasa berbeda dunia dengan alam. Manusia merasa menjadi tuan atas alam. Sekarang manusia berusaha mengembangkan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk mempelajari tanda-tanda kehidupan di planet lain. Artinya, kalau bumi kehabisan “manis”nya, maka manusia akan membuangnya seperti sepah, kemudian pindah ke planet lain. Bumi mungkin akan menjadi TPS (Tempat Pembuangan Sampah) kita dari planet Mars.

Apakah teknologi dapat menjadi mesias bagi manusia? Saya teringat film The Day the Earth Stood Still (2008) yang dibintangi Keanu Reeves. Dikisahkan bahwa bumi akan dihancurkan oleh makhluk asing (alien) dari luar planet kita. Alasan penghancuran tersebut adalah karena gaya hidup manusia yang sangat konsumtif dan eksploitatif telah merusak dan mengancam keseimbangan kehidupan makhluk lain di semesta ini. Oleh karena itu, demi menyelamatkan kehidupan alam semesta, maka bumi dan spesies manusia harus dimusnahkan. Sebelum pemusnahan itu, para alien telah mengangkat spesies-spesies flora dan fauna dari bumi ke suatu tempat yang nantinya bakal dijadikan awal kehidupan baru. Konsepnya persis seperti perahu Nuh, namun yang ini minus manusia. Jika pada peristiwa perahu Nuh Allah masih memercayakan manusia sebagai spesies yang bertanggung jawab untuk memulai dan memelihara kehidupan yang baru, tidak demikian dengan para alien dalam film ini. Singkat cerita penusnahan pun dimulai. Kekuatan teknologi dan senjata militer manusia yang begitu canggih tidak mampu menghentikan aksi pemusnahan itu sampai ketika tokoh wanita dalam film ini memohon dan meyakinkan alien tersebut bahwa manusia masih bisa berubah. Perempuan itu memohon agar manusia diberikan kesempatan untuk mengubah sikapnya dalam memperlakukan bumi. Demi melihat kesungguhan perempuan tersebut, alien itu pun luluh dan akhirnya memutuskan untuk menghentikan pemusnahan.

Perubahan Sikap

Film ini memang fiktif dan tidak semenarik Ayat-ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih untuk ditonton bareng oleh para pembesar negeri ini. Para capres dan cawapres pun mungkin tidak tahu ada film seperti ini. Tetapi ada pesan yang jelas dan sangat penting dari sana, bahwa yang bisa menyelamatkan bumi dan kehidupan di dalamnya adalah perubahan mental dan sikap manusia, bukan kemapanan ekonomi, bukan teknologi.

Sikap seperti apa? Kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Kompas kemarin (12 Juni 2009) menyebutkan bahwa masa depan kita terancam oleh sampah plastik! Ini benar-benar serius. Kita dituntut untuk tidak hanya mampu menangani sampah plastik, tetapi mencegah bertambahnya sampah plastik tersebut. Contoh, jika Anda berbelanja ke supermarket langganan Anda, cobalah untuk membawa plastik atau tas sendiri. Jika setiap hari ada 500 orang yang berbelanja di supermarket tersebut, dan semuanya selalu menggunakan plastik baru, silakan hitung jumlah sampah plastik yang dihasilkan dalam satu bulan, atau satu tahun. Dan semua plastik itu tidak akan terurai oleh tanah selama puluhan atau ratusan tahun. Selain itu? Cobalah untuk menanam pohon di sekitar rumah Anda. Lebih baik jika pohon produksi; mangga, jambu, dan sebagainya. Selain berfungsi untuk menyerap karbon dan memberikan oksigen, pohon itu juga akan memberikan buahnya pada waktunya.

Satu hal yang juga harus kita perhatikan sungguh-sungguh, konsumerisme. Inilah penyakit manusia zaman edan ini. Belanja, belanja, dan belanja. Ngutang (dengan kartu kredit) pun jadi gaya hidup. Tidak mampu bayar urusan belakangan, yang penting memiliki banyak barang yang diinginkan meski tak dibutuhkan.
Kita harus mengubah sikap kita jika ingin bumi tetap sebagai ibu pemberi kehidupan (Mother Earth). Ingat, alam tidak hanya pemberi kehidupan. Dia juga pengambil kehidupan!!! Air adalah sumber hidup kita, tetapi air juga yang mengambil hidup banyak orang di situ Gintung. Udara adalah pengisi paru-paru kita agar bisa bernafas, namun udara kotor dan terpolusi akan membawa racun ke dalam paru-paru kita. Tanah dan api pun demikian.

Kita masih punya waktu untuk berubah, tetapi waktunya tidak banyak. Jadi, tunggu apa lagi??!!

dik-doankKemarin saya baca koran yang berisi artikel tentang Dik Doank. Yang menarik adalah ketika saya melihat bio- datanya. Di situ ditulis nama 3 orang anak dari Dik Doank. Nama mereka adalah: Ratta Billa Baggi, Geddi Jaddi Membummi, dan Putti Kayya Hatti Imanni.

Coba Anda perhatikan baik-baik nama-nama di atas. Menurut saya, nama-nama di atas unik dan memiliki pesan yang dalam. Mari kita perhatikan. Ratta Billa Baggi. Menurut hemat saya, nama ini berasal dari kata-kata, “Rata Bila Berbagi.” Pesannya sangat jelas bukan?? Kemudian, Geddi Jaddi Membummi. Kemungkinan besar nama ini berasal dari kalimat, “Gede (besar) Jadi Harus Membumi.” Jangan sombong walaupun suatu saat jadi “orang besar”. Jangan angkuh kalau suatu waktu jadi orang berhasil, ngetop, kaya, punya jabatan. Yang terakhir, Putti Kayya Hatti Imanni. Nama ini pastilah berasal dari kata, “Putih Kaya (seperti) Hati yang Beriman.” Anak ini diharapkan menjadi anak yang sifat dan karakternya putih, bersih, soleha (saleh), santun, memancarkan isi hati yang imani.

Bagaimana dengan nama Anda? Kalau saya perhatikan, belakangan ini nama-nama orang Indonesia semakin tidak memancarkan makna keindonesiaannya. Waktu film India berjudul Kuch Kuch Hota Hai meledak di pasaran, banyak anak Indonesia tiba-tiba bernama Raul dan Angeli, sesuai dengan nama figur utama di film tersebut. Ketika David Beckham mencapai puncak popularitasnya sebagai pemain bola, tidak sedikit anak Indonesia bernama Beckham. Tidak penting arti, yang penting terdengar keren, berasal dari nama orang beken, atau nama-nama impor lainnya. Salahkah ini? Saya rasa tidak. Kita manusia bebas. Bebas juga untuk menamakan anak kita. Tapi nama harusnya bermakna, memiliki falsafah yang dalam.

Pernahkah Anda mendengar percakapan seperti ini:
A: Anaknya yang baru lahir dikasih nama apa?
B: Poltak!
A: Hah?? Hari gini nama anak masih Poltak??
B: ????

2 Minggu lalu saya mengikuti kebaktian di salah satu gereja HKBP, kebetulan ada acara baptisan kudus. Ketika pendeta menyebut nama anak ketiga yang menerima baptisan, jemaat langsung grrrrhh…, ribut, ketawa, dan senyum-senyum. Saya tidak tahu meraka kagum atau mengejek. Nama anak tersebut: Mamora Wicaksono!! (saya yakin Anda senyum juga, kan?) Menurutku itu nama yang hebat. Mamora itu dari bahasa Batak, yang artinya Kaya (menjadi kaya), sedangkan Wicaksono adalah nama Jawa yang artinya Bijaksana. Jadi, arti nama anak tersebut adalah Kaya akan kebijaksanaan (hikmat). Nama yang indah bukan?

Shakespeare bisa saja terkenal dengan kalimatnya, “Apalah arti sebuah nama,” namun sesungguhnya nama sangat sarat makna. Nama tokoh-tokoh Alkitab atau kitab-kitab suci agama lain pastilah memiliki makna. Abraham punya arti. Ishak punya arti. Musa punya arti. Samuel punya arti. Petrus pun punya arti. Nama-nama orang tua kita pun, atau generasi di atas kita masih sangat bermakna, sangat Indonesia. Nama itu memiliki pesannya masing-masing. Kita memang harus objektif melihat bahwa masih banyak nama anak Indonesia hari ini yang bernama Indonesia dan bermakna Indonesia, tapi kita juga harus jujur, nama-nama yang tidak jelas cukup mendominasi.

Sebagai orang Batak namaku cukup memiliki makna: Rindang! Dalam bahasa Indonesia kita tahu arti kata rindang. Tapi dalam bahasa Batak Rindang adalah kayu penyanggah kapal. Kayu yang memanjang tanpa sambung dari haluan sampai buritan kapal. Kayu ini hanya terdiri dari satu batang kayu, tidak boleh disambung. Kayu inilah tempat bertemunya kayu-kayu lain yang membentuk badan kapal. Setelah kupikir-pikir, berat sekali nama yang diberikan Opungku itu. Tapi aku yakin Opungku tidak asal-asalan ketika memberikan nama ini. Jelas sekali harapannya agar peranku di tengah keluarga bisa seperti kayu penyanggah kapal itu. Syukur-syukur kalau peran itu bisa sampai ke luar keluarga. Berat memang. Tapi dengan mengingat nama dan falsafah di baliknya, juga mengingat harapan Opungku ketika memberikan nama itu, saya selalu diingatkan agar hidup sesuai dengan arti nama itu. Seperti ada tuntutan yang berperan mengarahkan karakter hidup saya. Orang Batak bilang: “Goarnna do dainna.” Artinya, nama mencerminkan rasa (karakter)nya. Saya bukan mau bilang bahwa saya sudah seperti arti nama saya, tetapi setiap hari saya mengarahkan hidupku ke sana.

Sebaliknya, banyak juga karakter orang berlawanan dengan arti namanya. Ada orang bernama Sabar, tapi cepat marah. Ada orang bernama Arif, tapi tidak arif. Oleh karena itu falsafah nama harus dihidupi dan menjadi bagian dari diri kita. Arti nama itu sudah harus diterangkan sejak si anak mengerti ketika namanya dipanggil.

Memang hak kita untuk menamakan anak kita dengan apa saja. Namun, kita harus ingat bahwa nama itulah yang akan dibawa seumur hidup. Dengan nama itulah dia dipanggil selama hayatnya. Tentu nama terbaik yang akan kita berikan. Satu lagi, nama itu juga akan mampu membentuk karakternya jika sejak kecil diterangkan arti di balik namanya.

Jadi, nama sangat berarti!!! It’s just my opinion……..

pray1

Waktu itu aku masih SMP kelas 1 di Pangkal Pinang, Bangka. Aku ingat betul nama gadis itu. Namanya Rina Butarbutar. Waktu itu aku tergila-gila padanya. Orangnya manis, kulit cukup putih, rambut panjang, dan terlihat sangat kalem, eleganlah pokoknya. Kalau dia berjalan, duniaku seperti bergerak lambat, pas seperti adegan replay di pertandingan sepak bola. Mataku tak bisa berpaling darinya. Dia mencuri hatiku di depan mataku sendiri, dan tidak ada yang dapat kulakukan selain merelakannya. Aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Cinta, sobat, cinta!! Berjuta rasanya….

Lucunya, kami tidak pernah saling bicara, dan kami bertemu hanya ketika ada acara-acara besar di Gereja, ha ha ha…. Sebab dia tinggal di kota Pangkal Pinang, dan aku tinggal di komplek Sampur (perumahan PT. Timah), pinggiran Pangkal Pinang. Di Sampur, kami memiliki tempat kebaktian sendiri setiap minggunya. Jadi, tidak setiap minggu kami bertemu di Gereja di Pangkal Pinang. Dan tidak juga setiap hari kami bertemu di sekolah, sebab, kami tidak bersekolah di sekolah yang sama.

Meskipun begitu, saat itu aku yakin bahwa dia adalah “tulang rusuk”ku yang hilang. Tahukah kau, sobat? Selama hampir satu tahun, setiap malam sebelum berbaring di tempat tidur, aku berdoa kepada Tuhan agar kami dipersatukan. Aku ingat betul doaku waktu itu. Dengan keyakinan teguh, duduk di atas kasurku, aku berdoa: “Tuhan, persatukanlah kami. Jadikanlah dia jodohku.” Lengkap dengan janji-janji perubahan sikap di hadapan Tuhan, jika Tuhan mengabulkan permintaanku. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh saat itu (pastilah Tuhan dan malaikat-malaikatnya tersenyum-senyum mendengar doaku ketika itu, he he he….).

Gobloknya aku, setiap bertemu, tidak pernah satu kata pun terucap dari bibirku. Aku takut sekali untuk memulai menyapanya. Sama sekali tidak ada keberanian mendekatkan diri kepada sang pujaan hati. Aku hanya memasrahkan semuanya kepada Tuhan, melalui doaku.

Apakah doaku dikabulkan Tuhan?? Tentu saja tidak!! Sampai keluarga kami pindah dari pulau Bangka tahun 1994, tidak pernah sekali pun kami bertegur sapa atau berbicara. Jangan-jangan, dia tidak tahu aku ini eksis, ha ha ha………..

Tidak adilkah Tuhan karena tidak mengabulkan doaku? Tentu saja Tuhan Maha adil. Kalau saat itu doaku langsung dikabulkan Tuhan, mungkin sekarang aku sudah punya 5 anak, dan tidak menjadi seperti sekarang. Mungkin aku tidak tamat SMA, sebab sudah ngebet ingin kawin. Dan satu yang paling penting, apa yang baik menurutku, belum tentu baik menurut Tuhan. Jalan Tuhan bukan jalan manusia. Rancangan Tuhan bukan rancangan manusia, dan rancangan Tuhan pastilah rancangan kebaikan bagi setiap insan.

Tetapi manusia sering memaksakan kehendaknya. Manusia merasa apa yang baik baginya harus terjadi, dan Tuhan wajib merestuinya. Bahkan, banyak dari kita tidak melibatkan Tuhan sama sekali dalam mengambil satu-satu keputusan. Kita terlalu yakin dengan apa yang menurut kita baik tadi.

Kesalahan fatal kita juga adalah, kita memaksakan Tuhan untuk mengabulkan doa kita dengan cara kita. Kalau kita minta A, kita mau Tuhan memberikan A. Kalau Tuhan memberikan B, maka kita merasa doa kita tidak dijawab Tuhan. Kita menjadikan Tuhan semacam asisten, yang harus melakukan sesuai dengan yang kita inginkan. Seperti ilustrasi yang sudah sering kita dengar ini:

Banjir melanda suatu desa. Di desa tersebut tinggal laki-laki tua yang sangat taat dan percaya kepada Tuhan. Dia yakin Tuhan tidak akan membiarkan desanya tenggelam diterjang banjir. Untuk itu Dia berdoa: “Tuhan, aku percaya akan kuasa-Mu. Selamatkanlah desa kami ini, hentikanlah banjir ini segera!” Habis berdoa, tetangga si orang tua datang dan mengajak dia untuk segera mengungsi, sebab air mulai naik. Tetapi si orang tua menampik dengan tegas dan berkata: “Tuhan akan menyelamatkan saya. Dia tidak akan membiarkan banjir itu naik lebih tinggi!” Ternyata air semakin naik. Si orang tua kembali berdoa dengan doa yang sama. Sehabis berdoa, Pak Lurah pun datang dengan perahu karet untuk mengajak si orang tua mengungsi. Tetapi, kembali si orang tua menolak dengan tegas. Dia percaya Tuhan tidak akan membiarkannya tenggelam. Air pun semakin tinggi dan mulai menyentuh lehernya. Si orang tua kembali berdoa lebih sungguh-sungguh dengan doanya yang tadi. Tepat selesai dia berdoa, tim SAR pun datang dengan boat karet, memaksa si orang tua untuk segera naik dan mengungsi. Tetapi, dengan tegas dia kembali menolak dan mengatakan bahwa Tuhan akan menyelamatkannya. Dan air pun naik dengan cepat hampir menenggelamkan rumah-rumah di desa itu, termasuk rumah si orang tua. Dengan terpaksa si orang tua naik ke atas (genteng) rumahnya, dari situ dia berdoa dengan keras dengan doanya yang tadi. Kali ini Tuhan pasti bertindak, demikianlah dalam hatinya. Sehabis berdoa suara bergemuruh datang dari atas kepalanya, ternyata itu suara baling-baling helikopter tim penyelamat. Petugas mengulurkan tali agar si orang tua dapat selamat. Sekali lagi, orang tua itu menolak, sebab dia yakin sebentar lagi Tuhan akan menyelamatkannya dari banjir itu. Malang baginya, air naik dan arusnya membawa si orang tua, dan dia meninggal. Karena iman dan cara hidupnya yang baik di dunia, maka si orang tua masuk surga. Di surga dia bertemu dengan Tuhan dan langsung saja dia protes: “Tuhan, aku ini beriman teguh kepada-Mu, aku percaya akan kuasa-Mu. Tetapi, mengapa Kau tidak menjawab doaku dan tidak menolongku dari banjir itu, sehingga aku pun mati terbawa air?” Tuhan pun menjawab: “Anak-Ku, siapa bilang Aku tidak menjawab doamu? Waktu doamu yang pertama selesai, Aku telah mengutus tetanggamu itu untuk mengajakmu mengungsi. Kau tidak mau pergi. Doamu yang kedua Kujawab dengan kedatangan pak Lurah, kau juga tidak mau pergi. Doamu yang ketiga Kujawab dengan kedatangan tim SAR, kau masih tidak mau pergi. Dan, doamu yang terakhir Kujawab dengan helikopter penyelamat, kau tetap tidak mau pergi.”

Sobat, Tuhan tahu apa yang harus dilakukan-Nya terhadap hidup kita. Bagian kita adalah berdoa dan bekerja seoptimal mungkin. Yakinlah bahwa semua doa kita pasti didengar Tuhan. Tentang dikabulkan atau tidak, biarlah Tuhan bekerja dengan cara-Nya, sebab rencana Tuhan indah pada waktunya. Satu lagi, doa tidak harus berisikan daftar permintaan pribadi. Doa yang baik justru berisikan ucapan syukur dan puji-pujian bagi Tuhan. Apalagi jika ditambahkan dengan mendoakan orang lain, sungguh dahsyat kuasa doa itu.

Oh ya, kudengar dari uda (adik bapakku), si Rina tadi sudah menikah dan punya 2 anak, sekarang mereka tinggal di Bandung. Hancur hatiku mengenang dikau………………..

computer-guy
“Gaptek, kamu!” Demikian cetus seorang sahabat ketika melihat saya kagok dalam memainkan play station. Mungkin Anda juga pernah mengalami hal serupa. Menguasai teknologi memang hebat, banyak hal yang bisa kita lakukan dengan teknologi. Orang yang melek teknologi dianggap lebih mampu bersaing di era globalisasi ini. Lihat saja di kantor-kantor, tidak ada lagi orang yang menggunakan mesin ketik. Semua serba komputerisasi.

Pada awalnya manusia menciptakan teknologi pastilah untuk mempermudah aktifitas manusia. Teknologi diciptakan untuk menjadi “pembantu” manusia. Lalu teknologi itu berkembang dengan sangat luar biasa, bahkan manusia itu sendiri pun terkagum-kagum dan terheran-heran atas hasil karyanya.

Tetapi, benarkah teknologi selalu menjadi teman? Tunggu dulu….

Teknologi itu seperti pedang bermata dua. Dia bisa menjadi teman, bisa juga menjadi lawan. Bisa menjadi sahabat, namun bisa juga menjadi senjata makan tuan.

Teknologi komunikasi contohnya. Handphone sangat membantu komunikasi kita dengan siapa saja. Kita bisa kirim-mengirim surat yang dinamakan SMS (short message service) dalam hitungan detik. Sekarang kita bisa telfon-telfonan sambil bertatap wajah dengan orang yang kita kasihi melalu layanan video call. Tapi, tahukah Anda, sejak kemunculan HP ini, tingkat perceraian rumah tangga di seluruh dunia meningkat tajam!!! Selain itu, sadar atau tidak, kita menjadi sering sekali berbohong gara-gara HP. Banyak lagi sisi negatif dari kehadiran benda ajaib yang satu ini. Salah siapa? Teknologi atau manusianya?

Internet. Keajaiban lain yang diciptakan manusia. Sungguh luar biasa fungsinya. Anda mau mencari data apa saja pasti tersedia. Tinggal ketik kata kuncinya, maka profesor google akan mencarinya dengan segera. Saya bisa ngeblog ini juga karena internet. Semua orang di dunia bisa berinteraksi dan berteman melalui facebook di internetObama yang tadinya entah berada di planet mana, tiba-tiba saja menjadi orang yang sangat populer. Konon, salah satu kunci sukses Obama adalah aktifitas kampanye gratisannya melalui dunia maya. Tetapi, Anda juga harus tahu, di Eropa, gara-gara facebook, tingkat perceraian naik ratusan kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya.

Beberapa tahun lalu manusia berhasil mengkloning domba. Suatu lompatan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Siapa yang bisa menjamin saat ini, atau beberapa tahun lagi, manusia tidak mengkloning manusia. Sifat manusia yang selalu ingin lebih, sering berakibat fatal. Jangan-jangan sebentar lagi Tuhan akan kita “rumahkan” karena toh kita sudah bisa menggantikan fungsi-Nya.

Lihat saja mesin-mesin perang yang diciptakan manusia. Nuklir contohnya. Semua negara kuat telah dan sedang mengembangkan atau membangun energi nuklir. Jika perang antar negara kuat terjadi, maka kemusnahan dan kehancuran yang melebihi Hiroshima dan Nagasaki tak terhindarkan lagi.

Sekarang, manusia (NASA dan negara-negara maju lainnya) sedang berusaha meneliti planet lain di luar bumi yang dapat menjadi tempat tinggal manusia. Planet Mars, sejak beberapa dekade lalu sudah diteliti apakah bisa menjadi tempat tinggal manusia. Tujuannya apa? Supaya ketika bumi tidak lagi dapat ditempati, maka manusia bisa pindah ke planet lain. Mengapa bumi tidak dapat ditempati lagi? Karena aktifitas manusia telah menyebabkan kehancurannya. Para pakar memperkirakan bahwa bumi yang sedang hancur ini, suatu saat akan hancur total, dan ketika bumi hancur, manusia diyakini tidak punah, sebab ada teknologi yang akan menyelamatkannya.

Apakah teknologi mampu menyelamatkan manusia? Banyak yang meyakininya.

Menurut Anda bagaimana? Menurut saya, yang bisa menyelamatkan bumi ini dari kehancuran adalah manusia itu sendiri. Kita tahu dan sadar bahwa bumi ini semakin menurun kualitasnya. Kita juga sering mendengar istilah global warming. Global warming adalah memanasnya suhu bumi. Suhu bumi  memanas karena sinar matahari terperangkap di atmosfir bumi. Terperangkap karena semakin tebalnya lapisan atmosfir. Lapisan atmosfir itu semakin tebal karena banyaknya gas (khususnya karbondioksida) yang dibuang oleh manusia. Pemakaian bahan bakar fosil penyebab utamanya. Di saat yang bersamaan, manusia juga tanpa henti menebang hutannya, yang sebenarnya berfungsi untuk menyerap karbon tadi. Akibatnya karbon tersebut bebas terbang melayang memenuhi lapisan atmosfir bumi. Bumi pun memanas. Karena panasnya terus meningkat, es yang ada di kutub pun semakin cepat mencair. Akibatnya, permukaan air meningkat tajam. Banyak pulau terancam tenggelam, termasuk pulau-pulau Indonesia. Selain itu, perubahan iklim tak terhindarkan. Semakin hari iklim semakin tak menentu. Kita semakin sering bertemu dengan bencana-bencana yang bahkan tidak pernah kita dengar sebelumnya.

Apakah teknologi dapat menjadi mesias bagi kita??? Sebagaimana manusia yang adalah terbatas, maka teknologi pun pastilah terbatas. Bahkan, ada kalanya teknologi tidak berarti apa pun.

Sikap kitalah yang dapat menyelamatkan kehidupan di muka bumi ini. Allah telah memberikan kepercayaan kepada manusia agar manusia menjaga serta mengelola bumi dan segala isinya. Artinya apa? Artinya manusia memang diberikan kemampuan untuk menyelamatkan kehidupan di bumi. Dengan apa manusia menyelamatkan kehidupan di muka bumi? Dengan sikapnya, bukan teknologi! Teknologi adalah alat, media, bukan segala-galanya. Tanpa teknologi canggih pun dunia akan baik-baik saja, mungkin justru lebih baik. Tetapi, tanpa budi pekerti serta hati nurani yang baik dari manusia, maka kehidupan di bumi segera menuju kehancuran!!!

taxi-driver

Apakah pekerjaan Anda saat ini? Apakah Anda mencintainya? Atau jangan-jangan Anda membenci pekerjaan tersebut, tetapi berhubung cari kerja sekarang sulitnya haram mampus, maka Anda tetap mengerjakannya dengan terpaksa?

Pertama-tama saya mau katakan, bersyukurlah kalau saat ini Anda masih memiliki pekerjaan, sebab banyak sekali pengangguran di negeri ini. Di tengah-tengah sulitnya mencari pekerjaan saat ini, masih saja banyak orang yang tidak atau kurang bersyukur atas pekerjaannya. Hal ini terlihat melalui sikapnya ketika dia sedang mengerjakan pekerjaannya tersebut.

Sebagai contoh, 2 hari yang lalu saya ke Bandung. Karena saya kurang mengerti jalur angkot di Bandung, saya lebih memilih naik taksi. Dari beberapa taksi yang saya tumpangi, tidak satu pun yang menurut saya memberikan service memuaskan. Coba Anda bayangkan, saya ini penumpang (yang adalah pembeli jasa, yang adalah “raja”), saya membayar lebih dari yang tertera di argo, sehabis itu saya masih bilang terima kasih. Eh, si sopir menjawab saja tidak! Bilang terima kasih kembali saja tidak!

Bukankah taksi itu “mata air”nya? Bukankah taksi itu yang menafkahi istri dan anak-anaknya? Lalu, mengapa untuk senyum dan mengucapkan terima kasih saja sulitnya setengah mati? Bukankah menjual jasa modal utamanya adalah keramahan?

Mungkin Anda juga pernah mengalami hal serupa ketika berhadapan dengan profesi-profesi yang berbeda. Apalagi kalau kita berhadapan dengan birokrasi di negeri ini, senyum dan keramahan sungguh sangat sulit ditemui. Selain orang bank, yang penuh senyum itu justru para PSK dan waria ketika menjajakan jasa mereka.

Apa pun pekerjaan Anda, pekerjaan itu adalah cara Anda melayani Tuhan dan sesama. Pekerjaan tidak melulu berhubungan dengan perut. Kerja adalah cara manusia memenuhi panggilan sebagai manusia yang utuh. Melalui pekerjaan kita bisa berkarya. Karya itu yang akan membuat kita dikenang sepanjang masa.

 Di mana pun Anda berada, apa pun pekerjaan Anda, Anda pastilah orang yang spesial.

Masalah utama kita mungkin, kita selalu menghubungkan kerja dengan kekayaan. Kerja maka kaya. Sehingga tidak sedikit orang yang melakukan apa saja untuk jadi kaya. Bahkan, profesi atau pekerjaan yang memang tidak memungkinkan seseorang untuk jadi kaya, tetap dipaksakan menjadi jalan kekayaan. Sehingga dia pun melacurkan harga diri dan kemuliaan pekerjaannya demi uang dan kekayaan.

Mencintai pekerjaan adalah memahami pekerjaan tersebut sebagai media berkat Allah, sekaligus media untuk berkarya. Jika Anda tidak suka dengan pekerjaan Anda saat ini, lebih baik Anda tinggalkan saja pekerjaan tersebut sebelum banyak orang dan pihak yang akan dirugikan oleh sikap Anda.

jkrowling

Teman-teman, tanggal 20-21 Februari kemarin saya ikut workshop writer School-nya Mitra Pembelajar. Workshop itu bertajuk Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller. Mitra Pembelajar adalah sekolah pembelajar yang dipimpin oleh Andreas Harefa, penulis produktif dan laris.

Untuk ukuran saya biayanya tidak murah, 2 juta rupiah! Itu pun karena saya berstatus mahasiswa. Saya harus mengumpulkan “remah-remah” untuk bisa ikut workshop tersebut. Tetapi tidak apa, sebab saya sangat tertarik dengan dunia tulis menulis, dan punya keinginan kuat menjadi penulis. Blog ini pun adalah letupan energi menulis yang sebenarnya sudah lama menggelegak dalam diri saya. Jadi, saya pikir, 2 juta rupiah bukan apa-apa dibandingkan dengan ilmu yang akan saya dapat dari para instruktur jempolan tersebut. 2 juta rupiah juga tidak ada apa-apanya jika saya bisa menulis buku, dan bukunya laku terjual, syukur-syukur bisa untuk biaya menikah, he he he………Amin.

Mengapa saya ingin jadi penulis? Karena saya ingin meninggalkan jejak kehadiranku di dunia ini. Saya ingin generasi yang hidup 100 atau bahkan 300 tahun  mendatang tahu, bahwa pernah hidup seorang yang bernama Jhon Kristo Naibaho. Saya ingin walaupun saya sudah kembali ke dalam pelukan Sang Khalik, nama saya tetap disebut orang karena karya yang saya hasilkan. Saya ingin mewarisi buah pikiran saya untuk kehidupan generasi setelah saya. Saya ingin “meracuni” banyak orang dengan ide-ide dan gagasan-gagasan dalam membangun diri dan bangsa kita. Saya ingin menjangkau sebanyak mungkin orang dengan virus konstruktif, agar bangsa ini menjadi bangsa yang penduduknya adalah manusia yang telah menjadi manusia sepenuhnya. Jadi, 2 juta tidaklah mahal untuk cita-cita mulia tersebut, bukan?

Lalu, apa yang saya dapat dari workshop itu? Ternyata menulis buku tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Selama ini saya hanya membeli buku, bahkan bisa dibilang boros dalam membeli buku jika dibandingkan dengan penghasilan saya. Saya memang senang membaca. Percayalah, hidup anda akan sangat berbeda jika anda banyak membaca. Tapi sayang, masyarakat kita lebih suka menonton TV dari pada membaca. Mending kalau menonton berita, lha yang ditonton infotainment, berita-berita memalukan dan tidak penting dari para pesohor negeri.

Selama ini tidak pernah terpikir untuk menghasilkan buku sendiri, karena dalam bayangan saya, menulis buku itu tidaklah gampang. Tetapi, kemarin Andreas Harefa bilang: “Apa anda berani mati tanpa pernah menulis buku?” Itu dosa besar, kata beliau. Dia benar. Dulu, Jansen Sinamo, Guru Ethos, juga pernah mengatakan hal yang sama.

Tidak ada kata tidak bisa dalam menulis! Yang ada ialah kita tidak mau memulainya. Kita tidak mau mencoba menuangkan apa yang kita pikirkan dalam bentuk tulisan. Andreas juga bilang: “Tidak masuk akal jika seorang dosen, guru, kiai, pendeta, tidak bisa menulis buku.” Sebab menurut Andreas, mereka itu tinggal menuliskan saja apa yang selama ini mereka sampaikan secara lisan. Menurut saya, Andreas benar sekali dalam hal ini. Sekarang mari kita lihat di Toko Buku. Banyak sekali buku-buku sederhana yang ditulis, namun diserbu pembaca.

Nah, workshop ini sangat membantu dalam usaha kita menjadi penulis. Dalam satu sesi, kami di”paksa” menulis cepat tanpa mengedit tulisan tersebut. Ini teknik menulis cepat, kata beliau. Waktu yang diberikan 17 menit. Kami diminta menulis pengalaman masa kecil. Kami semua begitu semangat menulis. Setelah 17 menit, kami masing-masing menghitung berapa kata yang bisa kami hasilkan dalam 17 menit. Hasilnya beragam tentu saja; ada yang 300-an kata, ada yang 400-an kata, ada yang 500-an kata, bahkan ada yang 700-an kata. Kalau saya sih, hanya 473 kata. Maklum saya mengetik dengan 11 jari, ha ha ha…..

Setelah selesai, Andreas bilang: “Nah, itu anda semua bisa menulis satu artikel hanya dalam 17 menit!.”  Kami pun tersadar bahwa kami baru saja menulis satu cerita dalam 17 menit. Bayangkan berapa tulisan yang dapat kita hasilkan dalam satu hari kalau kita benar-benar mau menulis. Pelajarannya adalah: untuk dapat menghasilkan karya tulisan, kita harus membuat tekanan atau target terhadap diri kita sendiri. Tulis saja apa yang mau kita tulis, tumpahkan semua yang ada di kepala, jangan pedulikan dulu proses editing. Nanti ada saatnya untuk mengedit tulisan kita.

Teman-teman, masih banyak hal menarik yang saya dapatkan yang saya akan bagikan buat anda semua. Jangan takut, gratis kok. Saya ingin kita semua belajar menulis. Tetapi, satu yang tidak boleh kita lupakan: menulis itu saudara kembarnya membaca. Ibaratnya, membaca itu makanan, menulis itu minuman. Untuk menjadi penulis yang baik, yang penuh inspirasi, kita harus bayak membaca. Dari pada beli rokok, lebih baik beli buku. Dari pada ke mall melulu, lebih baik membaca buku di rumah, di temani segelas teh manis hangat, plus goreng pisang, membaca akan sangat nikmat.

Satu lagi, anda juga bisa kaya dari menulis, ha ha ha…….. Ayo menulis!!!

Ponari, itulah namanya. Dia baru duduk di kelas 3 SD. Tapi, penghasilannya lebih dari 50 juta rupiah setiap hari. Setiap hari! Apa pekerjaannya? Dia dianggap sakti setelah menemukan batu yang katanya jatuh dari langit. Batu tersebut dianggap bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Tidak heran jika setiap hari ribuan orang rela antri untuk menerima pengobatan darinya. Sampai hari ini (09 Feb’ 09), 4 nyawa telah melayang karena terhimpit dan terdesak pada saat mengantri untuk berobat dengan sang dukun.

Fenomena seperti ini sering terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Mochtar Lubis, wartawan senior, beberapa dekade lalu pernah menyebutkan bahwa salah satu ciri utama masyarakat Indonesia adalah percaya dengan hal-hal mistik. Tidak heran jika profesi sebagai dukun atau paranormal menjadi profesi yang sangat menjanjikan. Banyak juga dukun palsu bermunculan. Sering sekali kita mendengar atau melihat berita tentang masyarakat yang ditipu oleh dukun palsu. Bahkan dukun AS membunuh puluhan pasiennya.

Sekarang ini di televisi kita bisa melihat iklan-iklan dari para paranormal atau peramal, atau apalah namanya itu. Apapun masalah kita, kita tinggal KETIK REG saja ke nomor-nomor premium  yang mereka buat, maka masalah kita akan dibereskan. Mau uang, pekerjaan, jodoh, dan sebagainya, tinggal KETIK REG saja.

Yang mengherankan adalah, orang-orang berpendidikan, orang terpandang, politikus, artis, juga senang berdukun. Padahal bangsa ini selalu mengklaim dirinya sebagai bangsa yang taat beragama.

Adakah masa depan bagi bangsa yang mengandalkan kekuatan mistik? Apa yang disaksikan oleh Alkitab sangat jelas bahwa tidak ada masa depan bagi bangsa yang menduakan kuasa Allah. Tidak ada masa depan bagi bangsa yang tidak mengandalkan Allah sebagai penjamin masa depannya. Tidak ada masa depan bagi bangsa yang mengandalkan kekuatan dunia ini.

Dunia dan segala isinya milik Allah, kepada-Nyalah kita harus  menyerahkan  diri.  Manusia diberikan daya untuk berusaha sambil berdoa, dengan jalan yang diinginkan Tuhan tentunya. Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita ini akan berjalan lancar selalu. Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa tubuh kita ini akan sehat selalu. Yang Tuhan janjikan adalah bahwa Dia kan selalu menyertai kita sampai kepada akhir zaman, dalam suka dan duka. Serahkanlah hidupmu, seisi rumahmu, dan bangsamu, kepada Allah. Biarlah nama-Nya yang dimuliakan melalui hidup kita, melalui susah senang yang kita lewati setiap hari. Terpujilah nama Tuhan!!

Melihat lagak para pemimpin, calon pemimpin, dan elit politik bangsa ini, mau tidak mau jadi mual dan muak juga. Mendekati pemilu semua berlagak bak hero kesiangan. Merasa menjadi orang yang paling mengerti perasaan rakyat. Iklan-iklan politik yang berbiaya supermahal setiap hari menghiasi media cetak dan elektronik. Sehabis iklan itu, muncullah berita-berita menyedihkan tentang nasib rakyat, dan berita-berita memalukan tentang koruptor. ironis memang, tapi itulah wajah negeri ini.

Yang tidak kalah heboh adalah para calon legislatif, baik pusat maupun daerah. Semua merasa pantas dipilih. Tidak jelas apa program yang ditawarkan, yang penting wajah nampang di poster, spanduk, baliho, dan sebagainya.

Tidak tahu dengan pasti berapa uang rakyat yang telah dan akan habis dipakai selama masa kampaye sampai pemilu nanti. Satu yang rakyat harapkan adalah, mereka memilih orang-orang yang dianggap mampu mengakomodasi keinginan-keinginan sederhana mereka. Rakyat hanya ingin damai, aman, lapangan pekerjaan, pengentasan kemiskinan, tidak jauh dari situ.

Pada dasarnya pemerintah dipilih untuk melayani rakyat. Legislatif dipilih sebagai wakil rakyat untuk mengontrol jalannya pemerintahan tersebut agar sesuai dengan aspirasi rakyat serta UUD 1945. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Rakyatlah yang harus melayani pemerintah. Pemerintah sepertinya jauh di awang-awang, sedangkan rakyat terjerembab di bumi. Dewan rakyat yang terhormat, yang dipilih sebagai wakil rakyat, justru hanya memikirkan diri sendiri. Berita buruk tentang mereka hampir setiap hari terdengar.

Mengingat bahwa para elit politik yang bertarung saat ini masih itu-itu saja, maka harapan akan datangnya perubahan pun harus tetap dipendam dalam hati. Entah sampai kapan menanti datangnya pemimpin yang mau melayani, yang tidak segan turun ke jalan, merasakan dengan wajar apa yang diderita rakyatnya. Entah kapan di negeri ini datang seorang gembala yang baik, yang siap mengorbankan nyawanya demi domba-dombanya.

Andai para elit itu mau mendengar dengan hati, andai mereka mau melihat dengan jiwa, maka keadaan bangsa pasti jauh lebih baik. Bangsa ini butuh orang-orang yang memiliki hati.

Bagaimanapun kita harus tetap optimis, sebab ada satu teman yang tidak akan membiarkan bangsa ini hancur oleh karena pemimpinnya, yaitu Tuhan, pemilik semesta alam……

Older Posts »