
Waktu itu aku masih SMP kelas 1 di Pangkal Pinang, Bangka. Aku ingat betul nama gadis itu. Namanya Rina Butarbutar. Waktu itu aku tergila-gila padanya. Orangnya manis, kulit cukup putih, rambut panjang, dan terlihat sangat kalem, eleganlah pokoknya. Kalau dia berjalan, duniaku seperti bergerak lambat, pas seperti adegan replay di pertandingan sepak bola. Mataku tak bisa berpaling darinya. Dia mencuri hatiku di depan mataku sendiri, dan tidak ada yang dapat kulakukan selain merelakannya. Aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Cinta, sobat, cinta!! Berjuta rasanya….
Lucunya, kami tidak pernah saling bicara, dan kami bertemu hanya ketika ada acara-acara besar di Gereja, ha ha ha…. Sebab dia tinggal di kota Pangkal Pinang, dan aku tinggal di komplek Sampur (perumahan PT. Timah), pinggiran Pangkal Pinang. Di Sampur, kami memiliki tempat kebaktian sendiri setiap minggunya. Jadi, tidak setiap minggu kami bertemu di Gereja di Pangkal Pinang. Dan tidak juga setiap hari kami bertemu di sekolah, sebab, kami tidak bersekolah di sekolah yang sama.
Meskipun begitu, saat itu aku yakin bahwa dia adalah “tulang rusuk”ku yang hilang. Tahukah kau, sobat? Selama hampir satu tahun, setiap malam sebelum berbaring di tempat tidur, aku berdoa kepada Tuhan agar kami dipersatukan. Aku ingat betul doaku waktu itu. Dengan keyakinan teguh, duduk di atas kasurku, aku berdoa: “Tuhan, persatukanlah kami. Jadikanlah dia jodohku.” Lengkap dengan janji-janji perubahan sikap di hadapan Tuhan, jika Tuhan mengabulkan permintaanku. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh saat itu (pastilah Tuhan dan malaikat-malaikatnya tersenyum-senyum mendengar doaku ketika itu, he he he….).
Gobloknya aku, setiap bertemu, tidak pernah satu kata pun terucap dari bibirku. Aku takut sekali untuk memulai menyapanya. Sama sekali tidak ada keberanian mendekatkan diri kepada sang pujaan hati. Aku hanya memasrahkan semuanya kepada Tuhan, melalui doaku.
Apakah doaku dikabulkan Tuhan?? Tentu saja tidak!! Sampai keluarga kami pindah dari pulau Bangka tahun 1994, tidak pernah sekali pun kami bertegur sapa atau berbicara. Jangan-jangan, dia tidak tahu aku ini eksis, ha ha ha………..
Tidak adilkah Tuhan karena tidak mengabulkan doaku? Tentu saja Tuhan Maha adil. Kalau saat itu doaku langsung dikabulkan Tuhan, mungkin sekarang aku sudah punya 5 anak, dan tidak menjadi seperti sekarang. Mungkin aku tidak tamat SMA, sebab sudah ngebet ingin kawin. Dan satu yang paling penting, apa yang baik menurutku, belum tentu baik menurut Tuhan. Jalan Tuhan bukan jalan manusia. Rancangan Tuhan bukan rancangan manusia, dan rancangan Tuhan pastilah rancangan kebaikan bagi setiap insan.
Tetapi manusia sering memaksakan kehendaknya. Manusia merasa apa yang baik baginya harus terjadi, dan Tuhan wajib merestuinya. Bahkan, banyak dari kita tidak melibatkan Tuhan sama sekali dalam mengambil satu-satu keputusan. Kita terlalu yakin dengan apa yang menurut kita baik tadi.
Kesalahan fatal kita juga adalah, kita memaksakan Tuhan untuk mengabulkan doa kita dengan cara kita. Kalau kita minta A, kita mau Tuhan memberikan A. Kalau Tuhan memberikan B, maka kita merasa doa kita tidak dijawab Tuhan. Kita menjadikan Tuhan semacam asisten, yang harus melakukan sesuai dengan yang kita inginkan. Seperti ilustrasi yang sudah sering kita dengar ini:
Banjir melanda suatu desa. Di desa tersebut tinggal laki-laki tua yang sangat taat dan percaya kepada Tuhan. Dia yakin Tuhan tidak akan membiarkan desanya tenggelam diterjang banjir. Untuk itu Dia berdoa: “Tuhan, aku percaya akan kuasa-Mu. Selamatkanlah desa kami ini, hentikanlah banjir ini segera!” Habis berdoa, tetangga si orang tua datang dan mengajak dia untuk segera mengungsi, sebab air mulai naik. Tetapi si orang tua menampik dengan tegas dan berkata: “Tuhan akan menyelamatkan saya. Dia tidak akan membiarkan banjir itu naik lebih tinggi!” Ternyata air semakin naik. Si orang tua kembali berdoa dengan doa yang sama. Sehabis berdoa, Pak Lurah pun datang dengan perahu karet untuk mengajak si orang tua mengungsi. Tetapi, kembali si orang tua menolak dengan tegas. Dia percaya Tuhan tidak akan membiarkannya tenggelam. Air pun semakin tinggi dan mulai menyentuh lehernya. Si orang tua kembali berdoa lebih sungguh-sungguh dengan doanya yang tadi. Tepat selesai dia berdoa, tim SAR pun datang dengan boat karet, memaksa si orang tua untuk segera naik dan mengungsi. Tetapi, dengan tegas dia kembali menolak dan mengatakan bahwa Tuhan akan menyelamatkannya. Dan air pun naik dengan cepat hampir menenggelamkan rumah-rumah di desa itu, termasuk rumah si orang tua. Dengan terpaksa si orang tua naik ke atas (genteng) rumahnya, dari situ dia berdoa dengan keras dengan doanya yang tadi. Kali ini Tuhan pasti bertindak, demikianlah dalam hatinya. Sehabis berdoa suara bergemuruh datang dari atas kepalanya, ternyata itu suara baling-baling helikopter tim penyelamat. Petugas mengulurkan tali agar si orang tua dapat selamat. Sekali lagi, orang tua itu menolak, sebab dia yakin sebentar lagi Tuhan akan menyelamatkannya dari banjir itu. Malang baginya, air naik dan arusnya membawa si orang tua, dan dia meninggal. Karena iman dan cara hidupnya yang baik di dunia, maka si orang tua masuk surga. Di surga dia bertemu dengan Tuhan dan langsung saja dia protes: “Tuhan, aku ini beriman teguh kepada-Mu, aku percaya akan kuasa-Mu. Tetapi, mengapa Kau tidak menjawab doaku dan tidak menolongku dari banjir itu, sehingga aku pun mati terbawa air?” Tuhan pun menjawab: “Anak-Ku, siapa bilang Aku tidak menjawab doamu? Waktu doamu yang pertama selesai, Aku telah mengutus tetanggamu itu untuk mengajakmu mengungsi. Kau tidak mau pergi. Doamu yang kedua Kujawab dengan kedatangan pak Lurah, kau juga tidak mau pergi. Doamu yang ketiga Kujawab dengan kedatangan tim SAR, kau masih tidak mau pergi. Dan, doamu yang terakhir Kujawab dengan helikopter penyelamat, kau tetap tidak mau pergi.”
Sobat, Tuhan tahu apa yang harus dilakukan-Nya terhadap hidup kita. Bagian kita adalah berdoa dan bekerja seoptimal mungkin. Yakinlah bahwa semua doa kita pasti didengar Tuhan. Tentang dikabulkan atau tidak, biarlah Tuhan bekerja dengan cara-Nya, sebab rencana Tuhan indah pada waktunya. Satu lagi, doa tidak harus berisikan daftar permintaan pribadi. Doa yang baik justru berisikan ucapan syukur dan puji-pujian bagi Tuhan. Apalagi jika ditambahkan dengan mendoakan orang lain, sungguh dahsyat kuasa doa itu.
Oh ya, kudengar dari uda (adik bapakku), si Rina tadi sudah menikah dan punya 2 anak, sekarang mereka tinggal di Bandung. Hancur hatiku mengenang dikau………………..