Selamat Hari Lebaran, Kawan

Kuucapkan, selamat hari raya Idul Fitri buat saudara-saudara dan teman-temanku yang merayakan hari kemenangan, baik kemarin maupun hari ini.

Sempat terjadi kebingungan kapan tepatnya tiba 1 Syawal 1432 H (31 Agustus 2011). Sebagian umat Islam sudah berlebaran kemarin, 30 Agustus 2011. Tak masalah, yang penting maknanya tak berubah.
Karena Tulang (paman)-ku berlebaran kemarin, maka kami sudah menikmati nikmatnya ketupat lebaran kemarin….

Di tempatku tumbuh dan besar, hari lebaran sangat spesial tidak hanya buat teman-temanku yang muslim, tetapi buat kami juga.

Secara tradisi, hampir setiap hari pertama lebaran kami berkumpul di rumah Opungku, di Sungailiat, Bangka. Kami sendiri tinggal di komplek PT. Timah Sampur, Pangkalpinang. Secara agama, keluarga besar kami dari mamak memang terbagi dua, Islam dan Kristen.

Di pagi hari lebaran, sembari menunggu Opung pulang sholat Id dari mesjid, kami para cucu sudah berbaris dengan rapi dan manis mulai dari yang termuda sampai yang tertua di depan rumah Opung. Kemudian, satu per satu kami menyalami Opung yang berjalan santai bak raja disambut rakyatnya….

Setelah prosesi salam-salaman, saatnya untuk makan ketupat bersama…..maknyuussss…rumah Opung pun ricuh, ramai, karena cucunya cukup banyak dan rakus-rakus.

Biasanya, sorenya kami pulang ke rumah kami di Sampur. Di komplek kami inilah lebaran benar-benar menjadi petualangan seru.

Tetangga depan rumah (saya lupa namanya) pasti akan mengantarkan sedulang makanan buat kami. Isinya komplit……

Saya dan teman-teman muslim biasanya berkumpul terlebih dahulu untuk mengatur strategi perkunjungan. Kita akan incar rumah-rumah siapa yang biasanya punya makanan enak tiap lebaran. Setelah itu gerombolan ini pun bergerak.
Rumah-rumah itu kita gilir. Kadang, mulai dari siang sampai malam.

Di Bangka, lebaran berlangsung cukup lama, ada istilah hari pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Terkadang hari kelima atau keenam masih saja terasa lebaran, masih saja berkunjung ke rumah tetangga.
Tetapi, ingat, kawan, makanan enak tentu saja tak bertahan sampai hari keenam atau ketujuh, jadi, usahakanlah berkungjung di hari pertama atau kedua…
Tak jarang kacang atau kue yang enak kita masukkan ke kantong celana, hahaha……. Terkadang, kami berkungjung dua kali ke satu rumah, sekali bersama teman, yang berikutnya bersama orangtua.

Kalau sudah capek dan kenyang, kita biasanya istirahat di mesjid komplek. Di mesjid kita tiduran atau memukul beduk lebaran sambil menunggu perut kembali siap untuk kunjungan-kunjungan selanjutnya…..

Di komplek kami, sukacita lebaran sangat terasa. Rumah-rumah tetangga dipadati tamu. Orang-orang tua ngobrol sambil tertawa. Anak-anak saling memamerkan baju, sepatu, dan sandal baru. Gadis-gadis bersolek cantik sepanjang hari mengantisipasi teman-teman cowoknya datang bertamu. Karena belum ada HP, apalagi BB, terpaksa mereka berdandan sepanjang hari kalau-kalau kawannya datang.
Kalau dulu sudah ada FB, pasti mereka akan heboh mengunggah foto-foto narsis mereka ketika pakai baju lebaran…….

Sore harinya kita akan bermain bola di lapangan tengah komplek sambil taruhan. Uniknya, taruhan ini hanya kami lakukan sekali setahun, hanya ketika lebaran tiba. Teknis taruhannya tak biasa. Masing-masing pemain mencari pasangan taruhannya sendiri dari pemain tim lawan. Jadi, jumlah taruhan biasanya tak sama, ada yang bertaruh 1000 rupiah, ada yang 500 rupiah, sesuai kesepakatan masing-masing pasangan taruhan. Meski jumlah taruhan tak sama, permainan tetap seru…..

Di pulau kami ini, khususnya di komplek kami, keharmonisan tak pandang agama atau etnis. Saya, seorang Batak dan Kristen, biasa main di mesjid, tidur di mesjid, mukul beduk lebaran. Kami berteman tanpa sekat-sekat agama atau etnis.
Sepanjang sejarah hidup saya, kami tidak pernah mendengar ada kerusuhuan yang berbau etnis atau agama di Bangka. Mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi……

Lalu, kapan rumah kami dikunjungi oleh kawan-kawan? Teman-temanku akan membalas berkunjung ke rumah kami ketika tahun baru tiba. Karena warga Kristen lebih sedikit, maka kami harus siap-siap diserbu kawan-kawan…. hahaha, seru……
Selain itu, ketika Imlek tiba, maka kami pun bergabung untuk menyerbu rumah kawan-kawan Tionghoa kami…… Ah, indahnya persahabatan dan persaudaraan di Pulau kami, seindah pantai-pantainya yang berpasir putih dan halus……..

Selamat hari lebaran buat opungku, tulang-nantulang, uda-tante, toro, o’ol, bastian, botet, efran, budi, trisno, atik, ririn, lies, endang, ipung, sulis, andri, yudhi, dan banyak lagi kawan masa kecil yang tak bisa kusebutkan satu per satu.
I miss you all……………….

Mimpi kami di hari kemerdekaan

Beberapa malam yang lalu saya sempat ngobrol-ngobrol dengan pedagang nasi goreng keliling. Orangnya masih muda. Dia baru dua bulan lebih di Serpong. Pembawaannya sopan, berasal dari Madura.
Kata dia, gajinya 400 ribu per bulan. Itu gaji bersih. Makan, rokok, dan pemondokan ditanggung oleh bos nasi goreng yang juga masih jualan nasi goreng.

Dengan sok bijak saya bilang ke dia: “gajinya ditabung mas, jangan dihabisin buat rokok .”
Dengan yakin pula dia menjawab: “iya, pak.”
Terus saya bilang lagi: “nanti kalo modal udah cukup, mas bisa buka usaha nasi goreng sendiri.”
Dia menjawab: “ iya, pak. Saya mau cari uang buat membahagiakan orangtua saya. Saya pengen orangtua saya bisa naik haji dari usaha saya.”

Ah, mimpi sederhana dan mulia, tidak muluk-muluk. Tidak mustahil dari nasi goreng satu keluarga bisa naik haji.

Nirmala Bonat, Atun Sapiatun, Nurhayati, Siti Hajar, Ruyati, dan teman-teman mereka senasib juga memiliki mimpi yang tak ribet ketika memutuskan untuk pergi ke Arab Saudi atau Malaysia sebagai TKI. Memperbaiki rumah, mencari modal untuk usaha, menyekolahkan anak, itulah sebagian mimpi yang ada di benak mereka ketika bekerja menjadi pembantu rumah tangga di negeri orang.

Malangnya, kebanyakan dari mereka dianggap budak oleh majikan yang mempekerjakan mereka. Alih-alih dapat uang banyak, banyak dari mereka pulang dengan punggung yang hangus disetrika. Gigi hancur ditonjok majikan. Tangan dan kaki patah dihajar tuannya. Sebagian besar diperkosa. Yang tak tahan disiksa akhirnya melawan, dan membunuh. Mereka pun dipancung.

Ketika kembali ke negeri ini, sebagian besar dari mereka dipalak. Mereka diperas oleh preman-preman berdinas.

Untuk semua penderitaan itu mereka pun diganjar dengan gelar “pahlawan devisa.”

Mimpi mereka sederhana, memperbaiki rumah yang hampir roboh, membuka warung, atau menyekolahkan anak. Ya, sekedar mengubah nasib keluarga.

Mimpiku pun sederhana, tak ribet, meski tak mudah: aku ingin melihat kebenaran seperti air sungai yang mengalir, dan keadilan seperti air yang bergulung-gulung menyapu segala ketidakadilan di negeri yang kucintai ini. Aku ingin melihat yang bersalah melanggar hukum dihukum sesuai hukum yang berlaku. Aku ingin melihat keadilan bersemi di pengadilan. Aku ingin menyaksikan hukum ditegakkan oleh penegak hukum.

Sakit hatiku ketika melihat dua orang yang menjual ipad bekas tanpa buku manual berbahasa Indonesia ditangkap dengan sigap dan diadili, sementara nunun dan koruptor lain tak mampu kita pulangkan ke negeri ini. Nazaruddin pun kembali karena bantuan interpol.

Terluka hati kecilku ketika puluhan juta rakyat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan, mengais sampah, putus sekolah, sementara wakil rakyat yang mulia yang telah terbukti korupsi dan menerima suap hanya dihukum 1,8 bulan penjara. Mengapa kami miskin di negeri kaya ini?? Karena sebagian dari kami begitu serakah, sampai tega mengambil hak orang lain.

Aku yakin, sama sepertiku, mimpi sebagian besar rakyat Indonesia cukup sederhana; ingin hidup layak di negeri yang berlimpah susu dan madu ini.
Kami ingin bersekolah dengan baik meskipun bukan di sekolah bertaraf dan bertarif internasional.

Ketika sakit, kami ingin berobat ke rumah sakit, disambut dengan baik oleh paramedis, dilayani dengan baik. Meskipun kami tak punya uang jutaan rupiah untuk jaminan, layanilah dulu kami, selamatkan nyawa kami. Bukankah itu sumpah kalian ketika memilih menjadi penyembuh kami?

Kami tidak terlalu berniat untuk menjadi bendahara partai penguasa, karena kami tahu banyak “setan” di sana. Kami juga tidak berminat menjadi anggota DPR, karena kami tahu banyak intrik dan kemunafikan di sana.
Sedikit saja kok, dari antara kami, yang berniat menjadi bupati, walikota, gubernur, karena kami tahu di situ godaan untuk korupsi begitu besar. Jika tak bisa mengendalikan syahwat keduniawian seseorang bisa hancur oleh jabatan itu. Tak heran jika puluhan kepada daerah bermasalah dengan hukum. Lebih lucu lagi, demi jabatan-jabatan itu tak malu mereka bikin acara lompat-lompat partai. Kami tidak sejahat dan semunafik itu.

Mimpi kami sederhana, kami hanya ingin minum dari sumur kami sendiri. Kami hanya ingin makan dari ladang kami sendiri, tanpa takut diperkosa hak-hak kami oleh para penguasa yang telah kami pilih.
Tapi, bagaimana bisa kami minum dari sumur kami, atau makan dari tanah kami, jika tanah kami sudah bertahun-tahun direndam lumpur panas??? Kami sudah tercabut dari tanah kami…

Tapi, kami, ratusan juta dari kami, cukup bermartabat;kami tidak gelap mata atas kekayaan segelintir orang dari kami yang kekayaannya datang entah dengan cara baik atau tidak. Kami hanya ingin hidup layak secara lahir batin di negeri yang dititipkan Allah ini. Kami ingin merdeka meski hidup sederhana.

Di hari kemerdekaan yang ke-66 ini, kami berdoa agar Tuhan, yang adil dan penuh kasih, tidak memalingkan wajah-Nya dari negeri tercinta ini. Kami tahu, Tuhan sangat mencintai negeri ini. Buktinya, kayu dan batu jadi tanaman.

Tuhanku, dengarlah, Indonesia bukan hanya soal Nazaruddin, Gayus, Century, SBY, Demokrat, Anas, teroris, kerusuhan pemilukada, dll.
Tuhanku, Indonesia tak dapat diwakili oleh berita-berita kelakuan buruk para pemimpin kami seperti di metrotv,tvone, atau koran-koran nasional.

Bangsa ini memiliki orang-orang mulia yang sepi pemberitaan. Mereka hidup di sudut-sudut Merauke sampai Sabang.
Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia juga adalah pulau-pulau terluar nusantara, yang tetap setia mengibarkan merah-putih meski aspal dan listrik belum mereka kenal. Arahkanlah wajah-Mu kepada mereka, Tuhan.

Tuhanku, ingatlah air mata dan darah para pendiri bangsa ini, berikan kesempatan bagi kami untuk memperbaiki bangsa ini, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa ini tak hanya kaya sumber daya alamnya, bangsa ini pun kaya akan manusia-manusia yang berhati nurani.
Merdeka!!!!

selamat memasuki masa pensiun, mak!

Tak seperti dugaanku, ternyata sulit juga untuk menjadi seorang yang konsisten dalam menulis blog. dulu, waktu aku membuat blog ini, aku bertekad menjadi seorang yang konsisten dan setia dalam mengisi halamannya. ternyata, lama berlalu barulah aku menulis lagi.

tulisan ini harus aku tulis karena aku mau berbagi suka cita dengan siapa saja yang membaca tulisanku ini:

mamakku, bulan april yang lalu, mengakhiri masa pengabdian selama lebih kurang 35 tahun menjadi guru SD. ya, akhirnya beliau pensiun dari guru SD PNS (pegawai negeri sipil). kenapa sepertinya aku sangat bersuka cita? karena beliau sudah bebas pergi kemana saja, kapan saja,tanpa harus memikirkan lagi jadwal mengajarnya. tapi lebih dari itu, kami bersuka cita karena beliau pensiun dalam keadaan sehat, bahkan sangat sehat (rekan-rekannya yang lain selalu bilang dia awat muda, tak banyak berubah, dan sebagainya).

karena suka cita kami, saya usulkan ke beliau untuk bikin acara syukuran. ternyata beliau pun sudah punya keinginan itu, dengan catatan, harus menunggu uang TASPEN-nya cair dulu. saya tidak terlalu tahu kepanjangan TASPEN ini, tapi semacam uang tabungan yang diterima seorang PNS ketika dia pensiun. jangan salah, uang ini bukan kebaikan pemerintah, lho. uang ini dipotong dari gaji mereka setiap bulannya.

beberapa hari lalu kami berdua sms-an.
kira-kira begini percakapan kami yang saya terjemahkan dari bahasa batak:

saya: gimana mak, jadi acaya syukurannya?
beliau: jadi, kemungkinan tanggal 16 mei, pas libur.
saya: wah, bgslah…
beliau: iya. datanglah kalian ya…
saya: gak bisa kami mak, gak ada ongkos. kalian ajalah ya…
beliau: iyalah amang (panggilan org tua utk anak laki-laki).

sms-an kami kuanggap selesai.
tak lama, sms beliau datang lagi:

beliau: mang, kalu kau benar-benar ingin datang, ongkos datangnya ajalah kau usahakan, dari mamak pun ongkos pulangmu.
saya: ingin sih ingin mak, tapi bener-bener lagi gak punya uang kami. sekarang aja lagi ngumpulin uang buat uang pembangunanku di kampus. lagian, berapa emangnya uang TASPEN mamak?
beliau: banyak mang (*dengan yakin,–tafsiranku.). lumayanlah….
saya: berapa? (agak berharap juga….)
beliau: 31 juta…………………..
saya: hahahahahaha…..”banyak” ya mak.
beliau: banyaklah mang (*dengan polosnya)……mamak udah kasih perpuluhan ke gereja, ucap syukur karena disertai Tuhan selama mengajar sampai pensiun.
saya: mantap bah…
beliau: jadi datang gak?
saya: gak usahlah mak. nikmati ajalah uang pensiunmu itu. udah saatnya mamak menikmati jerih lelahmu tanpa kami bebani lagi.
beliau: kita nikmati sama-samalah, lumayan jumlahnya ini…
saya: hehe, iya lumayan, makanya nikmatilah….
beliau: ya udahlah kalo gitu. doakanlah acaranya berjalan dengan baik….
saya: oke bos….

tak lama smsnya datang lagi:
beliau: berapa emangnya uang pembangunanmu itu?
saya: hahahaha, udahlah mak, gak usah pikirkan kami dulu, nikmati ajalah berdua dengan bapak uang TASPENmu itu.
beliau: ya udah kalo gitu….

buatku, mamakku ini, kalau tidak setengah, ya 1/4 malaikatlah.
sepanjang pengamatanku, dia adalah figur guru yang sangat total mengabdi kepada dunia pendidikan. dia sangat mencintai pekerjaannya. sewaktu kami masih di Bangka dulu, dia juga guru sekolah minggu selama puluhan tahun.

namanya ibu nurintan napitupulu. ‘bu Nur nama kerennya. ya, rekan-rekan gurunya dan murid-muridnya memanggil dia, ‘bu Nur. nur artinya cahaya, kalau digabungkan dengan intan, cahaya intan. dahsyat sekali itu nama. entah kebetulan atau tidak, arti nama itu pas sekali dengan hymne guru yang dulu (gak tahu kalo sekarang) sering dinyanyikan di sekolah: engkau sebagai pelita dalam kegelapan…………….

yang pasti, menurut beliau, memang sudah menjadi cita-citanya untuk menjadi guru. dedikasinya membuatku bangga jadi anak guru…………

dia juga guruku. aku muridnya di SDN 300 Kebintik, Bangka.
sebuah sekolah yang muridnya terdiri dari anak-anak china, bugis, melayu, dan beberapa anak batak, yang rata-rata agak miskin, miskin, miskin parah, dan beberapa yang sederhana.

aku masih ingat betul ketika aku masuk SD. mamakku-lah guru kelas kami. kelas satu.
dengan cukup PD aku duduk di depan. teman sebangkuku anak china, aku lupa namanya.
tentu saja aku merasa aman. aku pikir: “yang di depan itu mamakku, gak ada yang bisa ganggu aku.”

aku lupa waktu tepatnya, yang pasti beberapa bulan setelah masuk jadi anak kelas satu, aku berantem dengan teman sebangkuku. aku ingat, aku meludah (*jangan ditiru ya…) kepada temanku itu.
terjadi kekacauan di kelas. walaupun begitu aku masih merasa aman, karena mamakku yang ada di depan kelas, begitu pikirku.

setelah melalui penyelidikan singkat, aku dipanggil ke depan kelas. agak khawatir juga. sampai di depan kelas, aku disuruhnya berdiri dekat papan tulis, agak diujung. kemudian beliau memberi perintah: “pegang kedua telingamu dengan tangan menyilang, tangan kanan memegang telinga kiri, tangan kiri memegang telinga kanan.”

aku menurutinya (*dengan gondok)….

kemudian dia berkata lagi: “angkat satu kakimu, jangan turunkan sebelum kusuruh turunkan. ngerti??”
“ngerti, bu.” jawabku, lirih…..

seisi kelas tertawa, aku hancur. hancur sehancur-hancurnya….
seketika aku benci kepada mamakku. tega-teganya dia mempermalukan anaknya sendiri di depan seisi kelas. belum lagi anak-anak kelas lain yang lewat sambil cikikikan….aku hancur…………sepanjang perjalanan pulang tak kucakapi dia. aku diam.

sampai di rumah, tak ada penghiburan buatku, malah beliau bilang ke aku: “di rumah, aku mamakmu, tapi di sekolah, aku gurumu, tak bisa sesukamu, taati peraturan.”

andai saja hukum di negeriku tak pandang bulu seperti mamakku, pasti negara kami akan jauh lebih baik.

mamakku hidup dengan penuh ucap syukur kepada Tuhan. dia selalu ajarkan kami untuk bersyukur. kalau kami mulai menuntut untuk sama seperti teman kami yang lebih mampu, beliau akan mengeluarkan petuah andalannya: “jangan hanya melihat ke atas, lihat juga ke bawah. masih banyak yang lebih susah dari kalian. syukurilah yang kalian miliki sekarang.”
mau bilang apalagi kalau sudah diskak seperti itu……

uang TASPEN yang 31 juta rupiah dia bilang banyak, (hahaha)….padahal uang itu sudah dipotong dari awal karirnya sebagai pegawai negeri.
35 tahun lebih mengabdi hanya dapat 31 juta rupiah. artinya, jumlah potongan gaji setiap bulan sangat kecil, karena gajinya juga sangat kecil.
meski gaji sangat kecil tak pernah kudengar dia mengeluh. dia mencukupkan dirinya dan keluarganya dengan gaji yang dia dapat.

dia pernah agak emosi ketika aku bertanya pendapatnya tentang gayus tambunan, yang seorang pegawai negeri, golongan jauh di bawah mamakku, tapi bergaji 12 juta rupiah (jauh sekali di atas gaji mamakku), tetap saja masih korupsi. kata dia: “gaji sudah besar gitu, masih saja korupsi. gak bersyukur….”

andai saja semua aparat pemerintah berprinsip sama: mencukupkan diri dengan gaji yang di dapat, angka korupsi akan turun signifikan.

satu hal yang sangat kusyukuri dari Tuhan adalah, selama menjadi guru (sampai memasuki masa pensiun), tak sekalipun mamakku sakit parah sehingga harus dirawat di rumah sakit.
itu juga yang selalu dia syukuri. itulah berkat yang luar biasa dari Tuhan, kata beliau.

kesehatannya bukan datang begitu saja dari langit.
kesehatannya datang dari pola hidup yang luar biasa teratur yang tak sanggup kami ikuti.
tak satu pun dari kami, lima anaknya, sanggup mengikutinya.

(tentang cara hidupnya itu akan kutulis di episode berikutnya)…..

tulisan ini kubuat sebagai penghargaan atas dedikasi luar biasa dari seorang guru biasa di sekolah dasar negeri biasa di Kabupaten Samosir (tempat beliau mengajar sejak tahun 1994 setelah kami pindah dari pulau Bangka).

aku yakin banyak guru seperti beliau di negeri ini, berdedikasi tinggi untuk dunia pendidikan.
namun, tak sedikit pula guru sekarang menjadi guru hanya demi pekerjaan dan gaji yang sudah cukup lumayan.

tak terhitung jumlah murid yang sudah dididik mamakku. mungkin banyak dari mereka yang sudah jadi “orang.” tapi, tak sedikit pula dari antara mereka yang tetap biasa saja.
tetapi yang pasti, menjadi guru di daerah miskin tidaklah muda. merekalah yang membuka mata kami terhadap aksara dan angka.
merekalah yang mengenalkan kami kepada dunia melalui buku dan ilmu mereka.
orangtua murid-murid itu hampir tidak sempat mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya karena harus berjibaku mencari sesuap nasi.

guru-guru yang berdedikasi tinggi itulah yang menjadi “pelita” dalam kegelapan kami…..

selamat memasuki masa pensiun mak, Tuhan memberkati jerih payahmu…….
jasamu tiada tara bagi kami, meski kau disebut pahlawan tanpa tanda jasa………

Wanita-wanita Penuh Cinta

Wanita. Perempuan. Makhluk indah ciptaan Tuhan. Bagaimana dunia tanpa mereka? Muram, tentu saja. Wanita ibarat cahaya, memberikan terang, kehangatan, dan cinta kepada kehidupan.

Di negeriku ini banyak wanita hebat, Kartini contohnya. Banyak wanita cantik, Dian Sastro misalnya. Mereka memang indah dan hebat.

Mengapa tiba-tiba aku bicara tentang wanita? Bukan karena sedang jatuh cinta. Aku merasa perlu mengingatkan wanita Indonesia, laki-laki juga seharusnya, untuk tidak lupa mengucap syukur atas hidup dan kehidupan yang dijalani di negeri ini.

Ini semua karena aku baru selesai membaca 2 novel. Yang satu true story, yang satu lagi fiksi historis—keduanya genre favoritku. Yang pertama judulnya Kabul Beauty School. Dari judulnya kalian pasti tahu setting novel ini adalah Afghanistan. Ditulis oleh Deborah Rodriguez berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri. Katanya novel ini akan segera difilmkan oleh Columbia Pictures. Deborah, seorang wanita Amerika, ahli kecantikan, rela meninggalkan negaranya untuk membantu wanita-wanita di Afghanistan melalui keahliannya, ilmu kecantikan. Bagaimana bisa?? Temukan jawabannya. Novel tentang cinta, persahabatan, empati yang tulus, pengorbanan, yang akhirnya mampu mengubah keadaan di tengah-tengah konteks kehidupan yang sama sekali tidak memberikan peluang bagi wanita untuk bebas berkarya. Cerita indah ini mengalir di bawah ancaman maut, desingan peluru, ledakan bom, kekerasan, dan air mata. Namun, sekolah kecantikan itu seperti oasis di gurun, telah memberikan setitik suka cita yang mahal harganya bagi wanita-wanita di negeri yang selalu dibanjiri air mata.

Novel yang kedua berjudul Scar of David, Scar of Palestine. Tentu saja berlatarbelakang Palestina. Kisah sedih menusuk tulang. Kisah tentang bangsa yang terusir dari tanah leluhurnya karena dirampas hak miliknya. Kisah tentang tercerabutnya silsilah keluarga yang berumur ribuan tahun akibat pemusnahan yang dilakukan oleh satu bangsa kepada bangsa lain. Kalian tentu tahu bangsa penjarah itu.
Kisah tentang cinta yang melimpah bagi orang-orang yang terkasih, yang harus mati terbunuh di atas tanah dan rumahnya sendiri. Penulisnya, Susan Abulhawa, yang juga salah satu pengungsi, korban penjarahan negeri dan tanah tersebut, menuturkan cerita ini dengan indah. Kalian tidak akan sabar untuk membalikkan halaman demi halamannya. Anda juga mungkin akan menangis dibuatnya.

Aku sengaja tidak menceritakan lebih jauh. Aku ingin kalian membaca buku-buku itu. Terlebih teman-temanku yang wanita.

Dari kedua novel ini aku belajar bahwa hidupku sekarang adalah anugerah yang luar biasa. Bahwa betapa saudara-saudara perempuanku sangat beruntung lahir dan hidup di Indonesia, bebas berekspresi, bebas berkarya.

Miliki cinta yang melimpah, meski perih, pedih, cinta akan membuatmu bertahan…

Lonely Jacko…

jackoKing of Pop telah tiada…Michael Jackson meninggal dalam usia yang relatif muda, 50 tahun. Penyebab kematiannya masih simpang siur. Menurut informasi medis, dia terkena serangan jantung. Kemudian ada yang mengatakan overdosis obat penenang. Yang menarik adalah ketika ada yang mengatakan bahwa penyebab kematiannya adalah karena kesepian!!! Seorang superstar dunia hidup dalam kesepian??? Apa mungkin? Bisa saja.

Kalau kita ikuti sedikit sejarah tentang Jacko, maka kita akan mengerti bahwa dia memang kesepian. Di usia yang masih sangat belia dia sudah menjadi bintang yang harus bekerja siang malam menghibur orang. Dia kehilangan masa kecil yang sangat berharga. Dia tidak sempat bermain-main sepeda layaknya anak kecil yang lain. Dia tidak punya waktu untuk main papan luncur, basket, dan lain sebagainya, seperti anak-anak seusianya. Demikian juga dengan masa remajanya, direnggut oleh popularitas sebagai pesohor. Bahkan anak-anaknya dipakaikan topeng setiap hendak keluar rumah, dengan alasan takut dilukai atau diculik orang. Suatu ketakutan yang hadir dari pengalaman masa kecilnya. Mahal sekali harga popularitas itu…

Untuk membalas (atau menebus) masa kecil yang hilang, maka dia membangun istana Neverland yang sangat mewah. Neverland diambil dari setting cerita Peter Pan, tokoh rekaan yang dikisahkan tidak dapat tumbuh dewasa, dia ingin menjadi anak kecil selamanya. Mungkin Jacko ingin seperti Peter Pan, tetap menjadi anak kecil selamanya. Mungkin dalam tubuh dewasa Jacko terperangkap jiwa anak kecilnya.

Sebagai super star, Jacko memang kaya raya. Namun, kekayaan itu tidak mampu membawa masa kecilnya kembali. Waktu yang telah berlalu tidak akan bisa diputar kembali. Di istana Neverland ini Jacko membangun banyak sekali tempat bermain bagi anak-anak, wahana-wahana seperti yang ada di taman hiburan. Semua lengkap. Dia mengundang banyak anak kecil untuk bermain di Neverland. Mungkin dia berusaha menghadirkan masa kecilnya yang hilang. Gara-gara keakrabannya dengan anak-anak ini juga dia beberapa kali terkena tuduhan pelecehan seksual. Sejak saat itu Jacko seperti remuk, mulai tenggelam, dan menarik diri dari dunia hiburan. Hidupnya sepi, bahkan sampai pada kematiannya dia pergi dalam kesepian, tanpa ditemani orang-orang terdekatnya.

Bergelimang harta dan menjadi salah satu orang paling terkenal di muka bumi sama sekali tidak menjamin Anda bahagia. Pengalaman hidup orang lain harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Adalah lebih menyenangkan berada di sisi orang-orang dan sahabat yang kita cintai meski dalam kesederhanaan, dari pada kaya raya namun tercerabut dari kekasih hati kita. Hal ini sudah mulai dirasakan Thaksin Sinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand. Dia diburon oleh aparat negaranya karena dugaan korupsi. Dia lari ke negeri orang. Dia kaya raya, termasuk orang terkaya di Asia. Namun, beberapa hari yang lalu dia mengatakan bahwa dia mulai kesepian di negeri orang, dia ingin kembali ke negaranya.

Hangatnya pelukan keluarga, lembutnya dekapan sahabat, dan penerimaan yang apa adanya dari orang-orang di sekitar kita adalah harta yang jauh lebih bernilai dari pada materi dan popularitas. Lalu, apakah artinya kita tidak boleh kaya dan populer?? Tentu saja boleh. Tapi hati-hati dalam memaknai kekayaan dan popularitas. Harta dan popularitas itu media, bukan tujuan.

Tujuan kehidupan adalah berarti bagi kehidupan. Harta dan popularitas akan tinggal. Sekarang kita memang heboh membicarakan Michael Jackson. Para pesohor dunia berduka dan mengadakan acara-acara untuk mengenangnya. Tetapi cepat atau lambat dia akan dilupakan orang. Yang tertinggal hanya karyanya, musiknya. Demikian juga kita. Yang akan kita tinggalkan adalah karya dalam kehidupan. Tidak mesti jadi orang populer untuk berkarya. Banyak orang yang berkarya dalam kesunyian, jauh dari hingar bingar media. Tetapi semesta dan kehidupan di dalamnya tahu apa yang dilakukannya dalam kesunyian itu.

Hidup terlalu singkat untuk disia-siakan. Hidup terlalu singkat untuk membenci saudara dan teman. Hidup terlalu singkat untuk mendengki sesama. Mari saling memaafkan jika terjadi kesalahan. Mari kembali bersahabat dengan sahabat yang selama ini hilang. Mari kembali bersaudara dengan saudara yang selama ini terpisah karena benci. Kita tidak dapat hidup sendiri, kehidupan ini akan membunuh kita. Jangan biarkan diri Anda, saudara kita, teman kita, atau orang-orang di sekitar kita hidup dalam kesepian, jadilah sahabat bagi mereka dan jadikan mereka sahabat bagi Anda. Sungguh alangkah baik jika kita semua hidup dalam persahabatan…..

The Day the Earth Stood Still

Lingkungan hidup (ekologi) sepertinya tidak menjadi topik yang seksi bagi para capres dan cawapres Indonesia. Hampir tidak pernah kita mendengar ada capres atau cawapres yang menyinggung tentang ekologi. Isu utama yang mereka usung adalah ekonomi. Pertumbuhan ekonomi selalu menjadi perhatian utama dan sepertinya menjadi ukuran sukses dari satu pemerintahan. Demi pertumbuhan ekonomi, ekologi sering jadi korban. Lingkungan hidup dieksploitasi untuk kemajuan ekonomi. Ekonomi itu untuk siapa? Untuk manusia tentu saja. Singkatnya, lingkungan hidup harus siap dikorbankan untuk kepentingan manusia. Semuanya berpusat pada manusia. Kita hanya memikirkan apa yang baik bagi kelangsungan hidup spesies kita, seolah-olah manusia dapat bertahan hidup tanpa spesies yang lain. Sobat, kita tidak akan bertahan tanpa ciptaan yang lain!

Teknologi sebagai Mesias?

Manusia semakin mengembangkan ilmu teknologi sebagai instrumen untuk berhubungan dengan alam. Akibatnya, terbentuklah jarak antara manusia dengan alam. Manusia superior, alam inferior. Manusia yang tadinya diciptakan merupakan bagian dari alam, kini merasa berbeda dunia dengan alam. Manusia merasa menjadi tuan atas alam. Sekarang manusia berusaha mengembangkan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk mempelajari tanda-tanda kehidupan di planet lain. Artinya, kalau bumi kehabisan “manis”nya, maka manusia akan membuangnya seperti sepah, kemudian pindah ke planet lain. Bumi mungkin akan menjadi TPS (Tempat Pembuangan Sampah) kita dari planet Mars.

Apakah teknologi dapat menjadi mesias bagi manusia? Saya teringat film The Day the Earth Stood Still (2008) yang dibintangi Keanu Reeves. Dikisahkan bahwa bumi akan dihancurkan oleh makhluk asing (alien) dari luar planet kita. Alasan penghancuran tersebut adalah karena gaya hidup manusia yang sangat konsumtif dan eksploitatif telah merusak dan mengancam keseimbangan kehidupan makhluk lain di semesta ini. Oleh karena itu, demi menyelamatkan kehidupan alam semesta, maka bumi dan spesies manusia harus dimusnahkan. Sebelum pemusnahan itu, para alien telah mengangkat spesies-spesies flora dan fauna dari bumi ke suatu tempat yang nantinya bakal dijadikan awal kehidupan baru. Konsepnya persis seperti perahu Nuh, namun yang ini minus manusia. Jika pada peristiwa perahu Nuh Allah masih memercayakan manusia sebagai spesies yang bertanggung jawab untuk memulai dan memelihara kehidupan yang baru, tidak demikian dengan para alien dalam film ini. Singkat cerita penusnahan pun dimulai. Kekuatan teknologi dan senjata militer manusia yang begitu canggih tidak mampu menghentikan aksi pemusnahan itu sampai ketika tokoh wanita dalam film ini memohon dan meyakinkan alien tersebut bahwa manusia masih bisa berubah. Perempuan itu memohon agar manusia diberikan kesempatan untuk mengubah sikapnya dalam memperlakukan bumi. Demi melihat kesungguhan perempuan tersebut, alien itu pun luluh dan akhirnya memutuskan untuk menghentikan pemusnahan.

Perubahan Sikap

Film ini memang fiktif dan tidak semenarik Ayat-ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih untuk ditonton bareng oleh para pembesar negeri ini. Para capres dan cawapres pun mungkin tidak tahu ada film seperti ini. Tetapi ada pesan yang jelas dan sangat penting dari sana, bahwa yang bisa menyelamatkan bumi dan kehidupan di dalamnya adalah perubahan mental dan sikap manusia, bukan kemapanan ekonomi, bukan teknologi.

Sikap seperti apa? Kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Kompas kemarin (12 Juni 2009) menyebutkan bahwa masa depan kita terancam oleh sampah plastik! Ini benar-benar serius. Kita dituntut untuk tidak hanya mampu menangani sampah plastik, tetapi mencegah bertambahnya sampah plastik tersebut. Contoh, jika Anda berbelanja ke supermarket langganan Anda, cobalah untuk membawa plastik atau tas sendiri. Jika setiap hari ada 500 orang yang berbelanja di supermarket tersebut, dan semuanya selalu menggunakan plastik baru, silakan hitung jumlah sampah plastik yang dihasilkan dalam satu bulan, atau satu tahun. Dan semua plastik itu tidak akan terurai oleh tanah selama puluhan atau ratusan tahun. Selain itu? Cobalah untuk menanam pohon di sekitar rumah Anda. Lebih baik jika pohon produksi; mangga, jambu, dan sebagainya. Selain berfungsi untuk menyerap karbon dan memberikan oksigen, pohon itu juga akan memberikan buahnya pada waktunya.

Satu hal yang juga harus kita perhatikan sungguh-sungguh, konsumerisme. Inilah penyakit manusia zaman edan ini. Belanja, belanja, dan belanja. Ngutang (dengan kartu kredit) pun jadi gaya hidup. Tidak mampu bayar urusan belakangan, yang penting memiliki banyak barang yang diinginkan meski tak dibutuhkan.
Kita harus mengubah sikap kita jika ingin bumi tetap sebagai ibu pemberi kehidupan (Mother Earth). Ingat, alam tidak hanya pemberi kehidupan. Dia juga pengambil kehidupan!!! Air adalah sumber hidup kita, tetapi air juga yang mengambil hidup banyak orang di situ Gintung. Udara adalah pengisi paru-paru kita agar bisa bernafas, namun udara kotor dan terpolusi akan membawa racun ke dalam paru-paru kita. Tanah dan api pun demikian.

Kita masih punya waktu untuk berubah, tetapi waktunya tidak banyak. Jadi, tunggu apa lagi??!!

Apalah Arti Sebuah Nama???

dik-doankKemarin saya baca koran yang berisi artikel tentang Dik Doank. Yang menarik adalah ketika saya melihat bio- datanya. Di situ ditulis nama 3 orang anak dari Dik Doank. Nama mereka adalah: Ratta Billa Baggi, Geddi Jaddi Membummi, dan Putti Kayya Hatti Imanni.

Coba Anda perhatikan baik-baik nama-nama di atas. Menurut saya, nama-nama di atas unik dan memiliki pesan yang dalam. Mari kita perhatikan. Ratta Billa Baggi. Menurut hemat saya, nama ini berasal dari kata-kata, “Rata Bila Berbagi.” Pesannya sangat jelas bukan?? Kemudian, Geddi Jaddi Membummi. Kemungkinan besar nama ini berasal dari kalimat, “Gede (besar) Jadi Harus Membumi.” Jangan sombong walaupun suatu saat jadi “orang besar”. Jangan angkuh kalau suatu waktu jadi orang berhasil, ngetop, kaya, punya jabatan. Yang terakhir, Putti Kayya Hatti Imanni. Nama ini pastilah berasal dari kata, “Putih Kaya (seperti) Hati yang Beriman.” Anak ini diharapkan menjadi anak yang sifat dan karakternya putih, bersih, soleha (saleh), santun, memancarkan isi hati yang imani.

Bagaimana dengan nama Anda? Kalau saya perhatikan, belakangan ini nama-nama orang Indonesia semakin tidak memancarkan makna keindonesiaannya. Waktu film India berjudul Kuch Kuch Hota Hai meledak di pasaran, banyak anak Indonesia tiba-tiba bernama Raul dan Angeli, sesuai dengan nama figur utama di film tersebut. Ketika David Beckham mencapai puncak popularitasnya sebagai pemain bola, tidak sedikit anak Indonesia bernama Beckham. Tidak penting arti, yang penting terdengar keren, berasal dari nama orang beken, atau nama-nama impor lainnya. Salahkah ini? Saya rasa tidak. Kita manusia bebas. Bebas juga untuk menamakan anak kita. Tapi nama harusnya bermakna, memiliki falsafah yang dalam.

Pernahkah Anda mendengar percakapan seperti ini:
A: Anaknya yang baru lahir dikasih nama apa?
B: Poltak!
A: Hah?? Hari gini nama anak masih Poltak??
B: ????

2 Minggu lalu saya mengikuti kebaktian di salah satu gereja HKBP, kebetulan ada acara baptisan kudus. Ketika pendeta menyebut nama anak ketiga yang menerima baptisan, jemaat langsung grrrrhh…, ribut, ketawa, dan senyum-senyum. Saya tidak tahu meraka kagum atau mengejek. Nama anak tersebut: Mamora Wicaksono!! (saya yakin Anda senyum juga, kan?) Menurutku itu nama yang hebat. Mamora itu dari bahasa Batak, yang artinya Kaya (menjadi kaya), sedangkan Wicaksono adalah nama Jawa yang artinya Bijaksana. Jadi, arti nama anak tersebut adalah Kaya akan kebijaksanaan (hikmat). Nama yang indah bukan?

Shakespeare bisa saja terkenal dengan kalimatnya, “Apalah arti sebuah nama,” namun sesungguhnya nama sangat sarat makna. Nama tokoh-tokoh Alkitab atau kitab-kitab suci agama lain pastilah memiliki makna. Abraham punya arti. Ishak punya arti. Musa punya arti. Samuel punya arti. Petrus pun punya arti. Nama-nama orang tua kita pun, atau generasi di atas kita masih sangat bermakna, sangat Indonesia. Nama itu memiliki pesannya masing-masing. Kita memang harus objektif melihat bahwa masih banyak nama anak Indonesia hari ini yang bernama Indonesia dan bermakna Indonesia, tapi kita juga harus jujur, nama-nama yang tidak jelas cukup mendominasi.

Sebagai orang Batak namaku cukup memiliki makna: Rindang! Dalam bahasa Indonesia kita tahu arti kata rindang. Tapi dalam bahasa Batak Rindang adalah kayu penyanggah kapal. Kayu yang memanjang tanpa sambung dari haluan sampai buritan kapal. Kayu ini hanya terdiri dari satu batang kayu, tidak boleh disambung. Kayu inilah tempat bertemunya kayu-kayu lain yang membentuk badan kapal. Setelah kupikir-pikir, berat sekali nama yang diberikan Opungku itu. Tapi aku yakin Opungku tidak asal-asalan ketika memberikan nama ini. Jelas sekali harapannya agar peranku di tengah keluarga bisa seperti kayu penyanggah kapal itu. Syukur-syukur kalau peran itu bisa sampai ke luar keluarga. Berat memang. Tapi dengan mengingat nama dan falsafah di baliknya, juga mengingat harapan Opungku ketika memberikan nama itu, saya selalu diingatkan agar hidup sesuai dengan arti nama itu. Seperti ada tuntutan yang berperan mengarahkan karakter hidup saya. Orang Batak bilang: “Goarnna do dainna.” Artinya, nama mencerminkan rasa (karakter)nya. Saya bukan mau bilang bahwa saya sudah seperti arti nama saya, tetapi setiap hari saya mengarahkan hidupku ke sana.

Sebaliknya, banyak juga karakter orang berlawanan dengan arti namanya. Ada orang bernama Sabar, tapi cepat marah. Ada orang bernama Arif, tapi tidak arif. Oleh karena itu falsafah nama harus dihidupi dan menjadi bagian dari diri kita. Arti nama itu sudah harus diterangkan sejak si anak mengerti ketika namanya dipanggil.

Memang hak kita untuk menamakan anak kita dengan apa saja. Namun, kita harus ingat bahwa nama itulah yang akan dibawa seumur hidup. Dengan nama itulah dia dipanggil selama hayatnya. Tentu nama terbaik yang akan kita berikan. Satu lagi, nama itu juga akan mampu membentuk karakternya jika sejak kecil diterangkan arti di balik namanya.

Jadi, nama sangat berarti!!! It’s just my opinion……..

Doa, Doa, dan Doa…….

pray1

Waktu itu aku masih SMP kelas 1 di Pangkal Pinang, Bangka. Aku ingat betul nama gadis itu. Namanya Rina Butarbutar. Waktu itu aku tergila-gila padanya. Orangnya manis, kulit cukup putih, rambut panjang, dan terlihat sangat kalem, eleganlah pokoknya. Kalau dia berjalan, duniaku seperti bergerak lambat, pas seperti adegan replay di pertandingan sepak bola. Mataku tak bisa berpaling darinya. Dia mencuri hatiku di depan mataku sendiri, dan tidak ada yang dapat kulakukan selain merelakannya. Aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Cinta, sobat, cinta!! Berjuta rasanya….

Lucunya, kami tidak pernah saling bicara, dan kami bertemu hanya ketika ada acara-acara besar di Gereja, ha ha ha…. Sebab dia tinggal di kota Pangkal Pinang, dan aku tinggal di komplek Sampur (perumahan PT. Timah), pinggiran Pangkal Pinang. Di Sampur, kami memiliki tempat kebaktian sendiri setiap minggunya. Jadi, tidak setiap minggu kami bertemu di Gereja di Pangkal Pinang. Dan tidak juga setiap hari kami bertemu di sekolah, sebab, kami tidak bersekolah di sekolah yang sama.

Meskipun begitu, saat itu aku yakin bahwa dia adalah “tulang rusuk”ku yang hilang. Tahukah kau, sobat? Selama hampir satu tahun, setiap malam sebelum berbaring di tempat tidur, aku berdoa kepada Tuhan agar kami dipersatukan. Aku ingat betul doaku waktu itu. Dengan keyakinan teguh, duduk di atas kasurku, aku berdoa: “Tuhan, persatukanlah kami. Jadikanlah dia jodohku.” Lengkap dengan janji-janji perubahan sikap di hadapan Tuhan, jika Tuhan mengabulkan permintaanku. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh saat itu (pastilah Tuhan dan malaikat-malaikatnya tersenyum-senyum mendengar doaku ketika itu, he he he….).

Gobloknya aku, setiap bertemu, tidak pernah satu kata pun terucap dari bibirku. Aku takut sekali untuk memulai menyapanya. Sama sekali tidak ada keberanian mendekatkan diri kepada sang pujaan hati. Aku hanya memasrahkan semuanya kepada Tuhan, melalui doaku.

Apakah doaku dikabulkan Tuhan?? Tentu saja tidak!! Sampai keluarga kami pindah dari pulau Bangka tahun 1994, tidak pernah sekali pun kami bertegur sapa atau berbicara. Jangan-jangan, dia tidak tahu aku ini eksis, ha ha ha………..

Tidak adilkah Tuhan karena tidak mengabulkan doaku? Tentu saja Tuhan Maha adil. Kalau saat itu doaku langsung dikabulkan Tuhan, mungkin sekarang aku sudah punya 5 anak, dan tidak menjadi seperti sekarang. Mungkin aku tidak tamat SMA, sebab sudah ngebet ingin kawin. Dan satu yang paling penting, apa yang baik menurutku, belum tentu baik menurut Tuhan. Jalan Tuhan bukan jalan manusia. Rancangan Tuhan bukan rancangan manusia, dan rancangan Tuhan pastilah rancangan kebaikan bagi setiap insan.

Tetapi manusia sering memaksakan kehendaknya. Manusia merasa apa yang baik baginya harus terjadi, dan Tuhan wajib merestuinya. Bahkan, banyak dari kita tidak melibatkan Tuhan sama sekali dalam mengambil satu-satu keputusan. Kita terlalu yakin dengan apa yang menurut kita baik tadi.

Kesalahan fatal kita juga adalah, kita memaksakan Tuhan untuk mengabulkan doa kita dengan cara kita. Kalau kita minta A, kita mau Tuhan memberikan A. Kalau Tuhan memberikan B, maka kita merasa doa kita tidak dijawab Tuhan. Kita menjadikan Tuhan semacam asisten, yang harus melakukan sesuai dengan yang kita inginkan. Seperti ilustrasi yang sudah sering kita dengar ini:

Banjir melanda suatu desa. Di desa tersebut tinggal laki-laki tua yang sangat taat dan percaya kepada Tuhan. Dia yakin Tuhan tidak akan membiarkan desanya tenggelam diterjang banjir. Untuk itu Dia berdoa: “Tuhan, aku percaya akan kuasa-Mu. Selamatkanlah desa kami ini, hentikanlah banjir ini segera!” Habis berdoa, tetangga si orang tua datang dan mengajak dia untuk segera mengungsi, sebab air mulai naik. Tetapi si orang tua menampik dengan tegas dan berkata: “Tuhan akan menyelamatkan saya. Dia tidak akan membiarkan banjir itu naik lebih tinggi!” Ternyata air semakin naik. Si orang tua kembali berdoa dengan doa yang sama. Sehabis berdoa, Pak Lurah pun datang dengan perahu karet untuk mengajak si orang tua mengungsi. Tetapi, kembali si orang tua menolak dengan tegas. Dia percaya Tuhan tidak akan membiarkannya tenggelam. Air pun semakin tinggi dan mulai menyentuh lehernya. Si orang tua kembali berdoa lebih sungguh-sungguh dengan doanya yang tadi. Tepat selesai dia berdoa, tim SAR pun datang dengan boat karet, memaksa si orang tua untuk segera naik dan mengungsi. Tetapi, dengan tegas dia kembali menolak dan mengatakan bahwa Tuhan akan menyelamatkannya. Dan air pun naik dengan cepat hampir menenggelamkan rumah-rumah di desa itu, termasuk rumah si orang tua. Dengan terpaksa si orang tua naik ke atas (genteng) rumahnya, dari situ dia berdoa dengan keras dengan doanya yang tadi. Kali ini Tuhan pasti bertindak, demikianlah dalam hatinya. Sehabis berdoa suara bergemuruh datang dari atas kepalanya, ternyata itu suara baling-baling helikopter tim penyelamat. Petugas mengulurkan tali agar si orang tua dapat selamat. Sekali lagi, orang tua itu menolak, sebab dia yakin sebentar lagi Tuhan akan menyelamatkannya dari banjir itu. Malang baginya, air naik dan arusnya membawa si orang tua, dan dia meninggal. Karena iman dan cara hidupnya yang baik di dunia, maka si orang tua masuk surga. Di surga dia bertemu dengan Tuhan dan langsung saja dia protes: “Tuhan, aku ini beriman teguh kepada-Mu, aku percaya akan kuasa-Mu. Tetapi, mengapa Kau tidak menjawab doaku dan tidak menolongku dari banjir itu, sehingga aku pun mati terbawa air?” Tuhan pun menjawab: “Anak-Ku, siapa bilang Aku tidak menjawab doamu? Waktu doamu yang pertama selesai, Aku telah mengutus tetanggamu itu untuk mengajakmu mengungsi. Kau tidak mau pergi. Doamu yang kedua Kujawab dengan kedatangan pak Lurah, kau juga tidak mau pergi. Doamu yang ketiga Kujawab dengan kedatangan tim SAR, kau masih tidak mau pergi. Dan, doamu yang terakhir Kujawab dengan helikopter penyelamat, kau tetap tidak mau pergi.”

Sobat, Tuhan tahu apa yang harus dilakukan-Nya terhadap hidup kita. Bagian kita adalah berdoa dan bekerja seoptimal mungkin. Yakinlah bahwa semua doa kita pasti didengar Tuhan. Tentang dikabulkan atau tidak, biarlah Tuhan bekerja dengan cara-Nya, sebab rencana Tuhan indah pada waktunya. Satu lagi, doa tidak harus berisikan daftar permintaan pribadi. Doa yang baik justru berisikan ucapan syukur dan puji-pujian bagi Tuhan. Apalagi jika ditambahkan dengan mendoakan orang lain, sungguh dahsyat kuasa doa itu.

Oh ya, kudengar dari uda (adik bapakku), si Rina tadi sudah menikah dan punya 2 anak, sekarang mereka tinggal di Bandung. Hancur hatiku mengenang dikau………………..

Teknologi: Teman atau Lawan??

computer-guy
“Gaptek, kamu!” Demikian cetus seorang sahabat ketika melihat saya kagok dalam memainkan play station. Mungkin Anda juga pernah mengalami hal serupa. Menguasai teknologi memang hebat, banyak hal yang bisa kita lakukan dengan teknologi. Orang yang melek teknologi dianggap lebih mampu bersaing di era globalisasi ini. Lihat saja di kantor-kantor, tidak ada lagi orang yang menggunakan mesin ketik. Semua serba komputerisasi.

Pada awalnya manusia menciptakan teknologi pastilah untuk mempermudah aktifitas manusia. Teknologi diciptakan untuk menjadi “pembantu” manusia. Lalu teknologi itu berkembang dengan sangat luar biasa, bahkan manusia itu sendiri pun terkagum-kagum dan terheran-heran atas hasil karyanya.

Tetapi, benarkah teknologi selalu menjadi teman? Tunggu dulu….

Teknologi itu seperti pedang bermata dua. Dia bisa menjadi teman, bisa juga menjadi lawan. Bisa menjadi sahabat, namun bisa juga menjadi senjata makan tuan.

Teknologi komunikasi contohnya. Handphone sangat membantu komunikasi kita dengan siapa saja. Kita bisa kirim-mengirim surat yang dinamakan SMS (short message service) dalam hitungan detik. Sekarang kita bisa telfon-telfonan sambil bertatap wajah dengan orang yang kita kasihi melalu layanan video call. Tapi, tahukah Anda, sejak kemunculan HP ini, tingkat perceraian rumah tangga di seluruh dunia meningkat tajam!!! Selain itu, sadar atau tidak, kita menjadi sering sekali berbohong gara-gara HP. Banyak lagi sisi negatif dari kehadiran benda ajaib yang satu ini. Salah siapa? Teknologi atau manusianya?

Internet. Keajaiban lain yang diciptakan manusia. Sungguh luar biasa fungsinya. Anda mau mencari data apa saja pasti tersedia. Tinggal ketik kata kuncinya, maka profesor google akan mencarinya dengan segera. Saya bisa ngeblog ini juga karena internet. Semua orang di dunia bisa berinteraksi dan berteman melalui facebook di internetObama yang tadinya entah berada di planet mana, tiba-tiba saja menjadi orang yang sangat populer. Konon, salah satu kunci sukses Obama adalah aktifitas kampanye gratisannya melalui dunia maya. Tetapi, Anda juga harus tahu, di Eropa, gara-gara facebook, tingkat perceraian naik ratusan kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya.

Beberapa tahun lalu manusia berhasil mengkloning domba. Suatu lompatan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Siapa yang bisa menjamin saat ini, atau beberapa tahun lagi, manusia tidak mengkloning manusia. Sifat manusia yang selalu ingin lebih, sering berakibat fatal. Jangan-jangan sebentar lagi Tuhan akan kita “rumahkan” karena toh kita sudah bisa menggantikan fungsi-Nya.

Lihat saja mesin-mesin perang yang diciptakan manusia. Nuklir contohnya. Semua negara kuat telah dan sedang mengembangkan atau membangun energi nuklir. Jika perang antar negara kuat terjadi, maka kemusnahan dan kehancuran yang melebihi Hiroshima dan Nagasaki tak terhindarkan lagi.

Sekarang, manusia (NASA dan negara-negara maju lainnya) sedang berusaha meneliti planet lain di luar bumi yang dapat menjadi tempat tinggal manusia. Planet Mars, sejak beberapa dekade lalu sudah diteliti apakah bisa menjadi tempat tinggal manusia. Tujuannya apa? Supaya ketika bumi tidak lagi dapat ditempati, maka manusia bisa pindah ke planet lain. Mengapa bumi tidak dapat ditempati lagi? Karena aktifitas manusia telah menyebabkan kehancurannya. Para pakar memperkirakan bahwa bumi yang sedang hancur ini, suatu saat akan hancur total, dan ketika bumi hancur, manusia diyakini tidak punah, sebab ada teknologi yang akan menyelamatkannya.

Apakah teknologi mampu menyelamatkan manusia? Banyak yang meyakininya.

Menurut Anda bagaimana? Menurut saya, yang bisa menyelamatkan bumi ini dari kehancuran adalah manusia itu sendiri. Kita tahu dan sadar bahwa bumi ini semakin menurun kualitasnya. Kita juga sering mendengar istilah global warming. Global warming adalah memanasnya suhu bumi. Suhu bumi  memanas karena sinar matahari terperangkap di atmosfir bumi. Terperangkap karena semakin tebalnya lapisan atmosfir. Lapisan atmosfir itu semakin tebal karena banyaknya gas (khususnya karbondioksida) yang dibuang oleh manusia. Pemakaian bahan bakar fosil penyebab utamanya. Di saat yang bersamaan, manusia juga tanpa henti menebang hutannya, yang sebenarnya berfungsi untuk menyerap karbon tadi. Akibatnya karbon tersebut bebas terbang melayang memenuhi lapisan atmosfir bumi. Bumi pun memanas. Karena panasnya terus meningkat, es yang ada di kutub pun semakin cepat mencair. Akibatnya, permukaan air meningkat tajam. Banyak pulau terancam tenggelam, termasuk pulau-pulau Indonesia. Selain itu, perubahan iklim tak terhindarkan. Semakin hari iklim semakin tak menentu. Kita semakin sering bertemu dengan bencana-bencana yang bahkan tidak pernah kita dengar sebelumnya.

Apakah teknologi dapat menjadi mesias bagi kita??? Sebagaimana manusia yang adalah terbatas, maka teknologi pun pastilah terbatas. Bahkan, ada kalanya teknologi tidak berarti apa pun.

Sikap kitalah yang dapat menyelamatkan kehidupan di muka bumi ini. Allah telah memberikan kepercayaan kepada manusia agar manusia menjaga serta mengelola bumi dan segala isinya. Artinya apa? Artinya manusia memang diberikan kemampuan untuk menyelamatkan kehidupan di bumi. Dengan apa manusia menyelamatkan kehidupan di muka bumi? Dengan sikapnya, bukan teknologi! Teknologi adalah alat, media, bukan segala-galanya. Tanpa teknologi canggih pun dunia akan baik-baik saja, mungkin justru lebih baik. Tetapi, tanpa budi pekerti serta hati nurani yang baik dari manusia, maka kehidupan di bumi segera menuju kehancuran!!!

Mencintai atau Membenci Pekerjaan?

taxi-driver

Apakah pekerjaan Anda saat ini? Apakah Anda mencintainya? Atau jangan-jangan Anda membenci pekerjaan tersebut, tetapi berhubung cari kerja sekarang sulitnya haram mampus, maka Anda tetap mengerjakannya dengan terpaksa?

Pertama-tama saya mau katakan, bersyukurlah kalau saat ini Anda masih memiliki pekerjaan, sebab banyak sekali pengangguran di negeri ini. Di tengah-tengah sulitnya mencari pekerjaan saat ini, masih saja banyak orang yang tidak atau kurang bersyukur atas pekerjaannya. Hal ini terlihat melalui sikapnya ketika dia sedang mengerjakan pekerjaannya tersebut.

Sebagai contoh, 2 hari yang lalu saya ke Bandung. Karena saya kurang mengerti jalur angkot di Bandung, saya lebih memilih naik taksi. Dari beberapa taksi yang saya tumpangi, tidak satu pun yang menurut saya memberikan service memuaskan. Coba Anda bayangkan, saya ini penumpang (yang adalah pembeli jasa, yang adalah “raja”), saya membayar lebih dari yang tertera di argo, sehabis itu saya masih bilang terima kasih. Eh, si sopir menjawab saja tidak! Bilang terima kasih kembali saja tidak!

Bukankah taksi itu “mata air”nya? Bukankah taksi itu yang menafkahi istri dan anak-anaknya? Lalu, mengapa untuk senyum dan mengucapkan terima kasih saja sulitnya setengah mati? Bukankah menjual jasa modal utamanya adalah keramahan?

Mungkin Anda juga pernah mengalami hal serupa ketika berhadapan dengan profesi-profesi yang berbeda. Apalagi kalau kita berhadapan dengan birokrasi di negeri ini, senyum dan keramahan sungguh sangat sulit ditemui. Selain orang bank, yang penuh senyum itu justru para PSK dan waria ketika menjajakan jasa mereka.

Apa pun pekerjaan Anda, pekerjaan itu adalah cara Anda melayani Tuhan dan sesama. Pekerjaan tidak melulu berhubungan dengan perut. Kerja adalah cara manusia memenuhi panggilan sebagai manusia yang utuh. Melalui pekerjaan kita bisa berkarya. Karya itu yang akan membuat kita dikenang sepanjang masa.

 Di mana pun Anda berada, apa pun pekerjaan Anda, Anda pastilah orang yang spesial.

Masalah utama kita mungkin, kita selalu menghubungkan kerja dengan kekayaan. Kerja maka kaya. Sehingga tidak sedikit orang yang melakukan apa saja untuk jadi kaya. Bahkan, profesi atau pekerjaan yang memang tidak memungkinkan seseorang untuk jadi kaya, tetap dipaksakan menjadi jalan kekayaan. Sehingga dia pun melacurkan harga diri dan kemuliaan pekerjaannya demi uang dan kekayaan.

Mencintai pekerjaan adalah memahami pekerjaan tersebut sebagai media berkat Allah, sekaligus media untuk berkarya. Jika Anda tidak suka dengan pekerjaan Anda saat ini, lebih baik Anda tinggalkan saja pekerjaan tersebut sebelum banyak orang dan pihak yang akan dirugikan oleh sikap Anda.

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.