Tak seperti dugaanku, ternyata sulit juga untuk menjadi seorang yang konsisten dalam menulis blog. dulu, waktu aku membuat blog ini, aku bertekad menjadi seorang yang konsisten dan setia dalam mengisi halamannya. ternyata, lama berlalu barulah aku menulis lagi.
tulisan ini harus aku tulis karena aku mau berbagi suka cita dengan siapa saja yang membaca tulisanku ini:
mamakku, bulan april yang lalu, mengakhiri masa pengabdian selama lebih kurang 35 tahun menjadi guru SD. ya, akhirnya beliau pensiun dari guru SD PNS (pegawai negeri sipil). kenapa sepertinya aku sangat bersuka cita? karena beliau sudah bebas pergi kemana saja, kapan saja,tanpa harus memikirkan lagi jadwal mengajarnya. tapi lebih dari itu, kami bersuka cita karena beliau pensiun dalam keadaan sehat, bahkan sangat sehat (rekan-rekannya yang lain selalu bilang dia awat muda, tak banyak berubah, dan sebagainya).
karena suka cita kami, saya usulkan ke beliau untuk bikin acara syukuran. ternyata beliau pun sudah punya keinginan itu, dengan catatan, harus menunggu uang TASPEN-nya cair dulu. saya tidak terlalu tahu kepanjangan TASPEN ini, tapi semacam uang tabungan yang diterima seorang PNS ketika dia pensiun. jangan salah, uang ini bukan kebaikan pemerintah, lho. uang ini dipotong dari gaji mereka setiap bulannya.
beberapa hari lalu kami berdua sms-an.
kira-kira begini percakapan kami yang saya terjemahkan dari bahasa batak:
saya: gimana mak, jadi acaya syukurannya?
beliau: jadi, kemungkinan tanggal 16 mei, pas libur.
saya: wah, bgslah…
beliau: iya. datanglah kalian ya…
saya: gak bisa kami mak, gak ada ongkos. kalian ajalah ya…
beliau: iyalah amang (panggilan org tua utk anak laki-laki).
sms-an kami kuanggap selesai.
tak lama, sms beliau datang lagi:
beliau: mang, kalu kau benar-benar ingin datang, ongkos datangnya ajalah kau usahakan, dari mamak pun ongkos pulangmu.
saya: ingin sih ingin mak, tapi bener-bener lagi gak punya uang kami. sekarang aja lagi ngumpulin uang buat uang pembangunanku di kampus. lagian, berapa emangnya uang TASPEN mamak?
beliau: banyak mang (*dengan yakin,–tafsiranku.). lumayanlah….
saya: berapa? (agak berharap juga….)
beliau: 31 juta…………………..
saya: hahahahahaha…..”banyak” ya mak.
beliau: banyaklah mang (*dengan polosnya)……mamak udah kasih perpuluhan ke gereja, ucap syukur karena disertai Tuhan selama mengajar sampai pensiun.
saya: mantap bah…
beliau: jadi datang gak?
saya: gak usahlah mak. nikmati ajalah uang pensiunmu itu. udah saatnya mamak menikmati jerih lelahmu tanpa kami bebani lagi.
beliau: kita nikmati sama-samalah, lumayan jumlahnya ini…
saya: hehe, iya lumayan, makanya nikmatilah….
beliau: ya udahlah kalo gitu. doakanlah acaranya berjalan dengan baik….
saya: oke bos….
tak lama smsnya datang lagi:
beliau: berapa emangnya uang pembangunanmu itu?
saya: hahahaha, udahlah mak, gak usah pikirkan kami dulu, nikmati ajalah berdua dengan bapak uang TASPENmu itu.
beliau: ya udah kalo gitu….
buatku, mamakku ini, kalau tidak setengah, ya 1/4 malaikatlah.
sepanjang pengamatanku, dia adalah figur guru yang sangat total mengabdi kepada dunia pendidikan. dia sangat mencintai pekerjaannya. sewaktu kami masih di Bangka dulu, dia juga guru sekolah minggu selama puluhan tahun.
namanya ibu nurintan napitupulu. ‘bu Nur nama kerennya. ya, rekan-rekan gurunya dan murid-muridnya memanggil dia, ‘bu Nur. nur artinya cahaya, kalau digabungkan dengan intan, cahaya intan. dahsyat sekali itu nama. entah kebetulan atau tidak, arti nama itu pas sekali dengan hymne guru yang dulu (gak tahu kalo sekarang) sering dinyanyikan di sekolah: engkau sebagai pelita dalam kegelapan…………….
yang pasti, menurut beliau, memang sudah menjadi cita-citanya untuk menjadi guru. dedikasinya membuatku bangga jadi anak guru…………
dia juga guruku. aku muridnya di SDN 300 Kebintik, Bangka.
sebuah sekolah yang muridnya terdiri dari anak-anak china, bugis, melayu, dan beberapa anak batak, yang rata-rata agak miskin, miskin, miskin parah, dan beberapa yang sederhana.
aku masih ingat betul ketika aku masuk SD. mamakku-lah guru kelas kami. kelas satu.
dengan cukup PD aku duduk di depan. teman sebangkuku anak china, aku lupa namanya.
tentu saja aku merasa aman. aku pikir: “yang di depan itu mamakku, gak ada yang bisa ganggu aku.”
aku lupa waktu tepatnya, yang pasti beberapa bulan setelah masuk jadi anak kelas satu, aku berantem dengan teman sebangkuku. aku ingat, aku meludah (*jangan ditiru ya…) kepada temanku itu.
terjadi kekacauan di kelas. walaupun begitu aku masih merasa aman, karena mamakku yang ada di depan kelas, begitu pikirku.
setelah melalui penyelidikan singkat, aku dipanggil ke depan kelas. agak khawatir juga. sampai di depan kelas, aku disuruhnya berdiri dekat papan tulis, agak diujung. kemudian beliau memberi perintah: “pegang kedua telingamu dengan tangan menyilang, tangan kanan memegang telinga kiri, tangan kiri memegang telinga kanan.”
aku menurutinya (*dengan gondok)….
kemudian dia berkata lagi: “angkat satu kakimu, jangan turunkan sebelum kusuruh turunkan. ngerti??”
“ngerti, bu.” jawabku, lirih…..
seisi kelas tertawa, aku hancur. hancur sehancur-hancurnya….
seketika aku benci kepada mamakku. tega-teganya dia mempermalukan anaknya sendiri di depan seisi kelas. belum lagi anak-anak kelas lain yang lewat sambil cikikikan….aku hancur…………sepanjang perjalanan pulang tak kucakapi dia. aku diam.
sampai di rumah, tak ada penghiburan buatku, malah beliau bilang ke aku: “di rumah, aku mamakmu, tapi di sekolah, aku gurumu, tak bisa sesukamu, taati peraturan.”
andai saja hukum di negeriku tak pandang bulu seperti mamakku, pasti negara kami akan jauh lebih baik.
mamakku hidup dengan penuh ucap syukur kepada Tuhan. dia selalu ajarkan kami untuk bersyukur. kalau kami mulai menuntut untuk sama seperti teman kami yang lebih mampu, beliau akan mengeluarkan petuah andalannya: “jangan hanya melihat ke atas, lihat juga ke bawah. masih banyak yang lebih susah dari kalian. syukurilah yang kalian miliki sekarang.”
mau bilang apalagi kalau sudah diskak seperti itu……
uang TASPEN yang 31 juta rupiah dia bilang banyak, (hahaha)….padahal uang itu sudah dipotong dari awal karirnya sebagai pegawai negeri.
35 tahun lebih mengabdi hanya dapat 31 juta rupiah. artinya, jumlah potongan gaji setiap bulan sangat kecil, karena gajinya juga sangat kecil.
meski gaji sangat kecil tak pernah kudengar dia mengeluh. dia mencukupkan dirinya dan keluarganya dengan gaji yang dia dapat.
dia pernah agak emosi ketika aku bertanya pendapatnya tentang gayus tambunan, yang seorang pegawai negeri, golongan jauh di bawah mamakku, tapi bergaji 12 juta rupiah (jauh sekali di atas gaji mamakku), tetap saja masih korupsi. kata dia: “gaji sudah besar gitu, masih saja korupsi. gak bersyukur….”
andai saja semua aparat pemerintah berprinsip sama: mencukupkan diri dengan gaji yang di dapat, angka korupsi akan turun signifikan.
satu hal yang sangat kusyukuri dari Tuhan adalah, selama menjadi guru (sampai memasuki masa pensiun), tak sekalipun mamakku sakit parah sehingga harus dirawat di rumah sakit.
itu juga yang selalu dia syukuri. itulah berkat yang luar biasa dari Tuhan, kata beliau.
kesehatannya bukan datang begitu saja dari langit.
kesehatannya datang dari pola hidup yang luar biasa teratur yang tak sanggup kami ikuti.
tak satu pun dari kami, lima anaknya, sanggup mengikutinya.
(tentang cara hidupnya itu akan kutulis di episode berikutnya)…..
tulisan ini kubuat sebagai penghargaan atas dedikasi luar biasa dari seorang guru biasa di sekolah dasar negeri biasa di Kabupaten Samosir (tempat beliau mengajar sejak tahun 1994 setelah kami pindah dari pulau Bangka).
aku yakin banyak guru seperti beliau di negeri ini, berdedikasi tinggi untuk dunia pendidikan.
namun, tak sedikit pula guru sekarang menjadi guru hanya demi pekerjaan dan gaji yang sudah cukup lumayan.
tak terhitung jumlah murid yang sudah dididik mamakku. mungkin banyak dari mereka yang sudah jadi “orang.” tapi, tak sedikit pula dari antara mereka yang tetap biasa saja.
tetapi yang pasti, menjadi guru di daerah miskin tidaklah muda. merekalah yang membuka mata kami terhadap aksara dan angka.
merekalah yang mengenalkan kami kepada dunia melalui buku dan ilmu mereka.
orangtua murid-murid itu hampir tidak sempat mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya karena harus berjibaku mencari sesuap nasi.
guru-guru yang berdedikasi tinggi itulah yang menjadi “pelita” dalam kegelapan kami…..
selamat memasuki masa pensiun mak, Tuhan memberkati jerih payahmu…….
jasamu tiada tara bagi kami, meski kau disebut pahlawan tanpa tanda jasa………
Singhan said,
May 17, 2011 at 2:58 pm
Selamat memunculkan semangat baru melanjutkan isi blog ini!
Jhon Kristo Naibaho said,
May 17, 2011 at 3:31 pm
iya amang, udah hampir dua tahun ditelantarkan,,hehe…
Martin said,
May 27, 2011 at 11:22 am
mantap, bang..
sistematikanya konsisten, cukup enak dibaca..
ditunggu kisah lain, yang tentunya agak menyentil ekospiritual dikitlah,.,hehe
semangat bang..!
Jhon Kristo Naibaho said,
May 31, 2011 at 4:28 pm
@martin: sudah kita mulai di blog baru, ecospirituality.wordpress.com. baru ada satu artikel sih. mudah-mudahan bisa setia mengisi halamannya demi menyebarkan benih ekospiritualitas. tks.