Mimpi kami di hari kemerdekaan

Beberapa malam yang lalu saya sempat ngobrol-ngobrol dengan pedagang nasi goreng keliling. Orangnya masih muda. Dia baru dua bulan lebih di Serpong. Pembawaannya sopan, berasal dari Madura.
Kata dia, gajinya 400 ribu per bulan. Itu gaji bersih. Makan, rokok, dan pemondokan ditanggung oleh bos nasi goreng yang juga masih jualan nasi goreng.

Dengan sok bijak saya bilang ke dia: “gajinya ditabung mas, jangan dihabisin buat rokok .”
Dengan yakin pula dia menjawab: “iya, pak.”
Terus saya bilang lagi: “nanti kalo modal udah cukup, mas bisa buka usaha nasi goreng sendiri.”
Dia menjawab: “ iya, pak. Saya mau cari uang buat membahagiakan orangtua saya. Saya pengen orangtua saya bisa naik haji dari usaha saya.”

Ah, mimpi sederhana dan mulia, tidak muluk-muluk. Tidak mustahil dari nasi goreng satu keluarga bisa naik haji.

Nirmala Bonat, Atun Sapiatun, Nurhayati, Siti Hajar, Ruyati, dan teman-teman mereka senasib juga memiliki mimpi yang tak ribet ketika memutuskan untuk pergi ke Arab Saudi atau Malaysia sebagai TKI. Memperbaiki rumah, mencari modal untuk usaha, menyekolahkan anak, itulah sebagian mimpi yang ada di benak mereka ketika bekerja menjadi pembantu rumah tangga di negeri orang.

Malangnya, kebanyakan dari mereka dianggap budak oleh majikan yang mempekerjakan mereka. Alih-alih dapat uang banyak, banyak dari mereka pulang dengan punggung yang hangus disetrika. Gigi hancur ditonjok majikan. Tangan dan kaki patah dihajar tuannya. Sebagian besar diperkosa. Yang tak tahan disiksa akhirnya melawan, dan membunuh. Mereka pun dipancung.

Ketika kembali ke negeri ini, sebagian besar dari mereka dipalak. Mereka diperas oleh preman-preman berdinas.

Untuk semua penderitaan itu mereka pun diganjar dengan gelar “pahlawan devisa.”

Mimpi mereka sederhana, memperbaiki rumah yang hampir roboh, membuka warung, atau menyekolahkan anak. Ya, sekedar mengubah nasib keluarga.

Mimpiku pun sederhana, tak ribet, meski tak mudah: aku ingin melihat kebenaran seperti air sungai yang mengalir, dan keadilan seperti air yang bergulung-gulung menyapu segala ketidakadilan di negeri yang kucintai ini. Aku ingin melihat yang bersalah melanggar hukum dihukum sesuai hukum yang berlaku. Aku ingin melihat keadilan bersemi di pengadilan. Aku ingin menyaksikan hukum ditegakkan oleh penegak hukum.

Sakit hatiku ketika melihat dua orang yang menjual ipad bekas tanpa buku manual berbahasa Indonesia ditangkap dengan sigap dan diadili, sementara nunun dan koruptor lain tak mampu kita pulangkan ke negeri ini. Nazaruddin pun kembali karena bantuan interpol.

Terluka hati kecilku ketika puluhan juta rakyat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan, mengais sampah, putus sekolah, sementara wakil rakyat yang mulia yang telah terbukti korupsi dan menerima suap hanya dihukum 1,8 bulan penjara. Mengapa kami miskin di negeri kaya ini?? Karena sebagian dari kami begitu serakah, sampai tega mengambil hak orang lain.

Aku yakin, sama sepertiku, mimpi sebagian besar rakyat Indonesia cukup sederhana; ingin hidup layak di negeri yang berlimpah susu dan madu ini.
Kami ingin bersekolah dengan baik meskipun bukan di sekolah bertaraf dan bertarif internasional.

Ketika sakit, kami ingin berobat ke rumah sakit, disambut dengan baik oleh paramedis, dilayani dengan baik. Meskipun kami tak punya uang jutaan rupiah untuk jaminan, layanilah dulu kami, selamatkan nyawa kami. Bukankah itu sumpah kalian ketika memilih menjadi penyembuh kami?

Kami tidak terlalu berniat untuk menjadi bendahara partai penguasa, karena kami tahu banyak “setan” di sana. Kami juga tidak berminat menjadi anggota DPR, karena kami tahu banyak intrik dan kemunafikan di sana.
Sedikit saja kok, dari antara kami, yang berniat menjadi bupati, walikota, gubernur, karena kami tahu di situ godaan untuk korupsi begitu besar. Jika tak bisa mengendalikan syahwat keduniawian seseorang bisa hancur oleh jabatan itu. Tak heran jika puluhan kepada daerah bermasalah dengan hukum. Lebih lucu lagi, demi jabatan-jabatan itu tak malu mereka bikin acara lompat-lompat partai. Kami tidak sejahat dan semunafik itu.

Mimpi kami sederhana, kami hanya ingin minum dari sumur kami sendiri. Kami hanya ingin makan dari ladang kami sendiri, tanpa takut diperkosa hak-hak kami oleh para penguasa yang telah kami pilih.
Tapi, bagaimana bisa kami minum dari sumur kami, atau makan dari tanah kami, jika tanah kami sudah bertahun-tahun direndam lumpur panas??? Kami sudah tercabut dari tanah kami…

Tapi, kami, ratusan juta dari kami, cukup bermartabat;kami tidak gelap mata atas kekayaan segelintir orang dari kami yang kekayaannya datang entah dengan cara baik atau tidak. Kami hanya ingin hidup layak secara lahir batin di negeri yang dititipkan Allah ini. Kami ingin merdeka meski hidup sederhana.

Di hari kemerdekaan yang ke-66 ini, kami berdoa agar Tuhan, yang adil dan penuh kasih, tidak memalingkan wajah-Nya dari negeri tercinta ini. Kami tahu, Tuhan sangat mencintai negeri ini. Buktinya, kayu dan batu jadi tanaman.

Tuhanku, dengarlah, Indonesia bukan hanya soal Nazaruddin, Gayus, Century, SBY, Demokrat, Anas, teroris, kerusuhan pemilukada, dll.
Tuhanku, Indonesia tak dapat diwakili oleh berita-berita kelakuan buruk para pemimpin kami seperti di metrotv,tvone, atau koran-koran nasional.

Bangsa ini memiliki orang-orang mulia yang sepi pemberitaan. Mereka hidup di sudut-sudut Merauke sampai Sabang.
Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia juga adalah pulau-pulau terluar nusantara, yang tetap setia mengibarkan merah-putih meski aspal dan listrik belum mereka kenal. Arahkanlah wajah-Mu kepada mereka, Tuhan.

Tuhanku, ingatlah air mata dan darah para pendiri bangsa ini, berikan kesempatan bagi kami untuk memperbaiki bangsa ini, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa ini tak hanya kaya sumber daya alamnya, bangsa ini pun kaya akan manusia-manusia yang berhati nurani.
Merdeka!!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.